adalah perang
salib kedua yang dilancarkan dari Eropa. Perang ini meletus akibat
jatuhnya County Edessa pada tahun sebelumnya. Edessa
adalah negara tentara salib yang pertama
kali didirikan selama Perang Salib Pertama (1095–1099), dan juga negara
yang pertama kali jatuh. Perang Salib Kedua diumumkan oleh Paus
Eugenius III, dan merupakan Perang Salib pertama yang dipimpin oleh
raja-raja Eropa, seperti Louis VII dari Perancis dan Conrad III dari Jerman, dengan bantuan dari
bangsawan-bangsawan Eropa penting lainnya. Pasukan-pasukan kedua raja tersebut
bergerak menyeberangi Eropa secara terpisah dan sedikit terhalang oleh
kaisar Romawi Timur, Manuel
I Comnenus. Setelah melewati Bizantium dan
memasuki Anatolia,
pasukan-pasukan kedua raja tersebut dikalahkan oleh tentara Seljuk.
Louis, Conrad, dan sisa dari pasukannya berhasil mencapai Yerusalem dan
melancarkan serangan yang "keliru" ke Damaskus pada
tahun 1148. Perang Salib di Timur mencapai kemenangan. Kegagalan ini
memicu jatuhnya kota Yerusalem dan Perang Salib Ketiga pada akhir abad ke-12.
Tentara salib yang mampu
menggapai kemenangan adalah gabungan tentara salib Flandria, Frisia, Normandia,
Inggris, Skotlandia, dan Jerman. Mereka berlayar menuju Tanah Suci. Di tengah
perjalanan, tentara tersebut berhenti dan membantu bangsa Portugis merebut Lisboa tahun 1147. Sementara
itu, Perang Salib Utara dikobarkan sebagai upaya
untuk mengubah orang-orang yang menganut paganisme menjadi
beriman Kristen, dan mereka harus berjuang selama
Peta tahun 1140 yang
menunjukan jatuhnya Edessa di sebelah kanan peta, yang merupakan sebab
terjadinya Perang Salib Kedua.
Latar belakang
Setelah meletusnya Perang Salib Pertama dan Perang
Salib 1101, ada tiga negara tentara salib yang didirikan di timur,
yaitu Kerajaan Yerusalem, Kepangeranan Antiokhia, dan County
Edessa. County Tripoli didirikan pada tahun 1109.
Edessa adalah negara yang secara geografis terletak paling utara dari keempat
negara ini, dan juga merupakan negara yang paling lemah serta hanya memiliki
sedikit penduduk. Maka dari itu, daerah ini sering diserang oleh negara-negara
Muslim seperti Ortoqid, Danishmend,
dan Seljuk. Baldwin II dan Joscelin dari Courtenay ditangkap
akibat kekalahan mereka dalam Pertempuran Harran tahun 1104. Baldwin dan
Joscelin ditangkap kedua kalinya pada tahun 1122, dan meskipun Edessa kembali
pulih setelah Pertempuran Azaz pada tahun 1125, Joscelin
tewas dalam pertempuran pada tahun 1131. Penerusnya, Joscelin II, terpaksa bersekutu dengan
kekaisaran Romawi Timur, namun, pada tahun 1143, Kaisar Romawi
Timur, John II Comnenus dan Raja Yerusalem Fulk dari Anjou, meninggal dunia. Joscelin juga
bertengkar dengan Count Tripoli dan Pangeran Antiokhia, sehingga Edessa tidak
memiliki sekutu yang kuat.
Sementara itu, Zengi, seorang Atabeg dari Mosul, merebut Aleppo pada
tahun 1128. Aleppo merupakan kunci kekuatan di Suriah. Baik Zengi
maupun raja Baldwin II mengalihkan perhatian mereka ke arah Damaskus.
Sayangnya, Baldwin dapat ditaklukan di luar kota tersebut pada tahun 1129.
Damaskus yang dikuasai oleh Dinasti
Burid, selanjutnya bersekutu dengan raja Fulk ketika Zengi mengepung kota
Damaskus pada tahun 1139 dan tahun 1140.
Pada akhir tahun 1144,
Joscelin II bersekutu dengan Ortoqid dan menyerang Edessa dengan hampir seluruh pasukannya
untuk membantu Ortoqid melawan Aleppo. Zengi, yang
hendak mengambil kesempatan atas kematian Fulk tahun 1143, dengan cepat
bergerak ke utara untuk mengepung Edessa, yang akhirnya jatuh ke
tangannya setelah sebulan pada tanggal 24 Desember 1144. Manasses dari Hierges, Philip
dari Milly dan lainnya dikirim dari Yerusalem untuk membantu, tetapi
mereka sudah terlambat. Joscelin II terus menguasai sisa wilayah Edessa
dari Turbessel,
tetapi sedikit demi sedikit sisa daerah tersebut direbut atau dijual kepada
Bizantium. Zengi sendiri dipuji sebagai "pelindung kepercayaan"
dan al-Malik al-Mansur, "raja yang berjaya". Ia tidak menyerang
sisa teritori Edessa, atau kerajaan Antiokhia. Peristiwa di Mosul memaksanya
untuk pulang, dan ia sekali lagi mengalihkan perhatiannya pada Damaskus, namun
ia dibunuh oleh seorang budak pada tahun 1146 dan digantikan oleh
anaknya, Nuruddin.
Joscelin berusaha untuk merebut kembali Edessa dengan terbunuhnya Zengi, tapi
Nuruddin dapat mengalahkannya pada November 1146.
Reaksi dari Barat
Berita jatuhnya Edessa
dikabarkan oleh para peziarah pada awal tahun 1145, lalu kemudian oleh duta
besar dari Antiokhia, Yerusalem dan
Armenia. Uskup Hugh dari Jabala melaporkan berita ini
kepada Paus Eugenius III, yang mengeluarkan bula
kepausan quantum praedecessores pada tanggal 1 Desember 1145 yang
memerintahkan dilaksanakannya Perang Salib Kedua. Hugh juga memberitahu Paus
bahwa seorang raja Kristen timur diharapkan akan memberi pertolongan kepada
negara-negara tentara salib.
Perang salib yang baru
diharapkan akan lebih teratur daripada Perang Salib Pertama. Apalagi, tentara
salib akan dipimpin oleh raja-raja terkuat dari Eropa. Sayangnya, paus hanya
mendapat sedikit tanggapan. Louis VII dari Perancis telah
memikirkan ekspedisi baru tanpa campur tangan Paus. Ia telah mengumumkan hal
itu pada istanannya di Bourges tahun 1145. Saat ini masih diperdebatkan, apakah
Louis merencanakan perang salibnya sendiri, atau ia hendak memenuhi janjinya
kepada saudaranya, Phillip, bahwa ia akan pergi ke Tanah Suci. Mungkin Louis
menghendaki pilihan bebasnya setelah mendengar tentang quantum
praedecessores. Sayangnya, Kepala Biara Suger dan bangsawan lainnya
tidak senang dengan rencana Louis, karena ia akan pergi dari kerajaan selama
beberapa tahun. Louis berkonsultasi dengan Bernardus dari Clairvaux, yang menyuruhnya
menemui Eugenius. Kini Louis pasti telah mendengar tentang bula kepausan, dan
Eugenius dengan penuh semangat mendukung perang salib Louis. Bula kepausan
dikeluarkan kembali pada tanggal 1 Maret 1146, dan Paus Eugenius
memberikan kekuasaan kepada Bernardus untuk berkhotbah di Perancis.
Bernardus dari Clairvaux
Santo Bernardus dari Clairvaux.
Paus memerintahkan
Bernardus untuk mengkhotbahkan Perang Salib Kedua dan memberikan indulgensi
sebagaimana yang diberikan oleh Paus
Urbanus II untuk Perang Salib Pertama. Parlemen dihimpunkan
di Vézelay, Burgundia tahun
1146, dan Bernardus berkhotbah dihadapan dewan pada 31 Maret. Louis VII dari Perancis, istri Louis Aliénor dari Aquitania, pangeran dan
pemimpin-pemimpin hadir dan bersujud dibawah kaki Bernardus untuk menerima
salib peziarah. Conrad III dari Jerman dan
keponakannya Frederick Barbarossa, menerima
salib dari tangan Bernardus. Paus Eugenius sendiri datang ke Perancis untuk
menyemangati. Bernardus kemudian pergi ke Jerman.
Walaupun semangatnya meluap-luap,
namun pada dasarnya Bernardus bukanlah seorang fanatik maupun penganiaya.
Seperti pada Perang Salib Pertama, khotbahnya dengan tidak sengaja menyebabkan
serangan terhadap orang Yahudi. Pendeta fanatik Perancis yang bernama Rudolf telah
menyebabkan pembantaian Yahudi di Rhineland, Cologne, Mainz, Worms, dan Speyer. Rudolf
menyatakan Yahudi tidak membantu secara finansial untuk menyelamatkan Tanah
Suci. Bernardus menentang serangan tersebut dan berkelana dari Flandria ke
Jerman untuk menyelesaikan masalah dan menenangkan massa. Bernardus lalu
bertemu Rudolf di Mainz dan berhasil membuatnya diam, lalu mengembalikannya ke
biara.
Perang salib Wend
Ketika Perang Salib Kedua
diserukan, banyak orang Jerman Selatan yang
menjadi sukarelawan perang. Orang-orang Sachsen di Jerman Utara merasa
enggan. Pada pertemuan Reichstag di Frankfurt tanggal 13 Maret 1147, mereka
memberitahu Santo Bernardus bahwa mereka lebih ingin berperang melawan bangsa
Slavia. Paus Eugenius menerima rencana Sachsen dan mengeluarkan bula
kepausan divina dispensatione pada 13 April.
Bula Kepausan ini menyatakan bahwa tidak ada perbedaan nilai spiritual yang
didapat dalam masing-masing perang salib. Orang yang menjadi sukarelawan
melawan bangsa Slavia adalah bangsa Denmark, Sachsen,
dan Polandia,
dan juga terdapat bangsa Bohemia. Wakil Paus, Anselm dari Havelberg,
diberi wewenang untuk memegang kekuasaan secara keseluruhan. Kampanye militer
itu sendiri dipimpin oleh keluarga-keluarga Sachsen seperti Ascania, Wettin,
dan Schauenburg.
Kecewa dengan parsitipasi
Jerman dalam perang salib, Obotrit menyerang Wagria pada
Juni 1147, sehingga tentara salib mulai bergerak pada akhir musim panas tahun
1147. Setelah mengusir Obotrit dari wilayah Kristen, tentara salib menyerang
benteng Obotrit di Dobin dan benteng
bangsa Liutizia di Demmin. Ketika beberapa tentara
salib menganjurkan untuk menghancurkan wilayah di luar kota, beberapa lainnya
menolak, dan bertanya, "apakah itu bukan tanah kita sehingga kita hendak
menghancurkannya, dan apakah mereka bukan bangsa kita sehingga kita hendak
bertempur melawan mereka?" Pasukan Sachsen dibawah Henry si Singa mundur
setelah kepala kaum pagan Niklot setuju untuk membaptis
garnisun Dobin. Setelah pengepungan Demmin gagal, kontingen tentara salib
dialihkan untuk menyerang Pomerania. Mereka telah mencapai kota Kristen Stettin, lalu
tentara salib dibubarkan setelah bertemu dengan Uskup Albert dari Pomerania dan
Pangeran Ratibor I dari
Pomerania.
Menurut Bernardus dari
Clairvaux, tujuan perang salib ini adalah untuk melawan Slavia pagan
"hingga pada saatnya nanti, dengan pertolongan Tuhan, entah mereka akan
berpindah agama atau disingkirkan." Sayangnya, tentara salib gagal
mengganti agama orang-orang Wend. Orang-orang Sachsen mendapati kaum Slavia di
Dobin berbondong-bondong kembali ke kepercayaan pagan mereka ketika tentara
Kristen dibubarkan. Albert dari Pomerania menjelaskan, "jika mereka ingin
agar Kekristenan mengakar kuat ... yang harus mereka lakukan adalah
menyebarkannya melalui pengajaran, bukan menggunakan senjata."
Pada akhir perang
salib, Mecklenburg dan Pomerania mengalami penjarahan dan
depopulasi akibat maraknya pertumpahan darah, terutama diakibatkan oleh
keganasan tentara Henry si Singa. Akibatnya, penduduk Slavia kehilangan banyak
metode produksi, sehingga membatasi perlawanan mereka di masa depan.
Reconquista dan jatuhnya
Lisboa
Pada musim semi tahun
1147, Paus mengatur perluasan perang salib ke semenanjung Iberia. Ia memerintahkan Alfonso VII dari León untuk menyamakan
kampanyenya melawan Moor dengan Perang Salib Kedua. Pada Mei 1147, kontingen
tentara salib pertama meninggalkan Dartmouth di Inggris menuju
Tanah Suci. Cuaca buruk memaksa kapal mereka berhenti di kota Porto pada 16 Juni 1147. Di sana mereka
dibujuk untuk bertemu dengan Afonso I dari Portugal.
Tentara salib setuju
untuk membantu Afonso menyerang Lisboa. Pengepungan Lisboa berlangsung dari 1 Juli hingga 25 Oktober 1147. Pada 25 Oktober,
penguasa Moor menyerah,
terutama karena kelaparan. Kebanyakan tentara salib menetap di kota yang baru
direbut, tetapi beberapa dari mereka berlayar dan meneruskan perjalanan ke
Tanah Suci. Beberapa di antara mereka, yang telah berangkat lebih awal,
membantu merebut Santarém pada tahun yang sama. Mereka juga
membantu menguasai Sintra, Almada, Palmela dan Setúbal, dan
dipersilakan untuk tinggal di tanah yang telah ditaklukan. Selanjutnya mereka
mulai menghasilkan keturunan.
Di tempat lain di
semenanjung Iberia pada waktu yang hampir sama, Alfonso VII of León, Ramon Berenguer IV, dan
lainnya, memimpin tentara salib Catalunya dan Perancis melawan
kota pelabuhan Almería yang kaya. Dengan dukungan dari angkatan
laut Genova-Pisa, kota ini berhasil
diduduki pada Oktober 1147. Ramon Berenger lalu menyerang wilayah Taifa Murabitun di Valencia dan Murcia. Pada
Desember 1148, ia merebut Tortosa setelah pengepungan selama lima bulan dengan
bantuan tentara salib Perancis dan Genova. Satu tahun kemudian, Fraga, Lleida dan Mequinenza jatuh ke tangan
pasukannya.
Perang Salib di Timur
Joscelin mencoba merebut
kembali Edessa setelah pembunuhan Zengi, tetapi Nuruddin menaklukannya pada
November 1146. Pada 16 Februari 1147, tentara salib
Perancis bertemu di Étampes untuk mendiskusikan rute mereka. Jerman memilih
untuk melewati Hongaria karena Roger II, Raja Sisilia, adalah
musuh Conrad dan rute laut secara politis tidak praktis. Banyak bangsawan
Perancis tidak mempercayai jalur yang akan membawa mereka melalui Kekaisaran
Romawi Timur tersebut, yang memiliki sejarah buruk pada masa Perang Salib
Pertama. Meskipun demikian, akhirnya mereka memutuskan untuk mengikuti Conrad,
dan direncanakan berangkat pada 15 Juni. Roger II merasa tersinggung dan
menolak berpartisipasi lebih lanjut. Di Perancis, Kepala Biara Suger dan William II dari Nevers terpilih sebagai
wali raja sementara raja pergi mengikuti perang salib. Di Jerman, pengkhotbahan
lebih lanjut dikumandangkan oleh Adam dari Ebrach dan Otto dari Freising.
Pada 13 Maret di Frankfurt, putra Conrad, Frederick,
terpilih sebagai raja dibawah perwakilan Henry, Uskup kepala
Mainz. Jerman berencana pergi ke Tanah Suci pada hari Paskah, tetapi
mereka tidak berangkat sampai bulan Mei.
Rute Jerman
Tentara salib Jerman,
tediri dari Franconia, Bayern, dan Swabia,
meninggalkan tanah air mereka pada Mei 1147. Ottokar III dari
Styria bergabung dengan Conrad di Wina, dan musuh
Conrad, Geza II dari Hongaria,
akhirnya membiarkan mereka lewat. Ketika 20.000 pasukan Jerman tiba di
wilayah Bizantium,
Manuel takut mereka akan menyerang Bizantium, dan pasukan Romawi Timur
ditugaskan untuk memastikan agar tidak terjadi masalah apapun.
Pertempuran-pertempuran kecil dengan beberapa orang Jerman yang tidak mau
menurut meletus di dekat Philippopolis dan
di Adrianopel,
tempat jendral Bizantium, Prosouch, bertempur dengan keponakan Conrad, yang
nantinya akan menjadi kaisar, Frederick. Lebih buruk lagi,
beberapa pasukan Jerman tewas karena banjir pada awal bulan September. Pada 10
September, mereka tiba di Konstantinopel. Hubungan dengan Manuel kurang baik
dan orang Jerman diminta untuk menyeberang ke Asia Kecil secepat
mungkin. Manuel ingin Conrad meninggalkan beberapa pasukannya di belakang untuk
membantunya bertahan melawan serangan Roger II, yang telah mengambil kesempatan
untuk untuk merebut kota-kota di Yunani, tetapi
Conrad menolak, walaupun ia adalah musuh dari Roger.
Rute Perancis
Tentara salib
Perancis berangkat dari Metz pada bulan Juni 1147, dipimpin oleh Louis, Thierry
dari Elsas, Renaut I dari Bar, Amadeus III dari Savoy dan
saudaranya William V dari
Montferrat, William VII dari Auvergne, dan
lain-lain, bersama dengan pasukan Lorraine, Bretagne, Burgundi,
dan Aquitaine.
Pasukan dari Provence, dipimpin oleh Alphonse dari Tolosa, memilih untuk
menunggu sampai bulan Agustus. Di Worms, Louis
bergabung dengan tentara salib dari Normandia dan
Inggris. Mereka mengikuti rute Conrad dengan damai, meskipun Louis datang dalam
konflik dengan Geza dari Hongaria sat Geza menemukan Louis telah mempersilakan
orang Hongaria untuk bergabung dengan pasukannya.
Sejak negosiasi awal di
antara Louis dan Manuel, Manuel telah menghentikan kampanye militer
melawan Kesultanan Rüm dan menandatangani gencatan
senjata dengan Mas'ud. Hal ini dilakukan
sehingga Manuel dapat memusatkan perhatiannya pada pertahanan kekaisarannya
dari tentara salib, yang memiliki reputasi buruk akibat pencurian dan
pengkhianatan sejak Perang Salib Pertama. Mereka dituduh melakukan
hal yang jahat di Konstantinopel. Hubungan Manuel dengan pasukan
Perancis lebih baik daripada dengan orang Jerman. Beberapa orang Perancis marah
karena gencatan senjata Manuel dengan Seljuk dan melakukan penyerangan di
Konstantinopel, tapi mereka dapat dikendalikan oleh Louis.
Ketika pasukan dari
Savoy, Auvergne,
dan Montferrat bergabung
dengan Louis di Konstantinopel dengan melewati Italia dan menyeberang
dari Brindisi menuju Durres, seluruh
pasukan mereka menyeberangi Bosporus menuju Asia Kecil melalui
kapal. Mereka disemangati oleh rumor bahwa Jerman telah merebut Iconium, tetapi
Manuel menolak memberi Louis bantuan tentara Bizantium. Bizantium baru saja
diserang oleh Roger II dari Sisilia, dan seluruh pasukan
Manuel dibutuhkan di Balkan. Baik Jerman dan Perancis memasuki Asia tanpa
bantuan Bizantium, tidak seperti pada Perang Salib Pertama. Dalam tradisi yang
dibuat oleh kakek dari Manuel, Alexios I, Manuel menyuruh orang Perancis untuk
menyerahkan wilayah manapun yang direbutnya kepada Romawi Timur.
Pasukan Perancis bertemu
sisa pasukan Conrad di Nicea, dan Conrad bergabung dengan pasukan Louis. Mereka
mengikuti rute Otto dari Freising, dan tiba di Efesus pada
bulan Desember. Di situ, mereka menyadari bahwa Turki Seljuk mempersiapkan
serangan terhadap mereka. Sementara itu, Manuel mengirim utusan yang menyatakan
keluhan mengenai penjarahan dan perampasan yang dilakukan oleh Louis, dan tidak
ada jaminan bahwa Bizantium akan membantu mereka melawan Turki Seljuk. Setelah
itu, Conrad jatuh sakit dan kembali ke Konstantinopel. Louis tidak mendengarkan
peringatan mengenai serangan Seljuk dan lalu bergerak keluar Efesus. Seljuk
menunggu menyerang, tapi dalam pertempuran kecil diluar Efesus, pasukan
Perancis berhasil memenangkan pertempuran.
Mereka mencapai Laodicea pada
Januari 1148,
hampir pada waktu yang sama ketika Otto dari Freising dihancurkan di tempat
yang sama. Perjalanan pun tetap dilanjutkan. Barisan depan dibawah pimpinan
Amadeus dari Savoy terpisah dari pasukan di Gunung Cadmus, sementara
pasukan Louis mengalami kekalahan. Pasukan Turki tidak mengganggu dengan
menyerang lebih lanjut dan pasukan Perancis bergerak menuju Adalia. Adalia
telah dihancurkan oleh Seljuk, dan juga dibakar agar pasukan Perancis tidak
mendapat makanan. Louis tidak lagi ingin melalui jalur darat, dan memilih untuk
mengumpulkan armada di Adalia dan berlayar ke Antiokhia. Setelah terlambat
selama 1 bulan karena badai, hampir semua kapal yang dijanjikan tidak tiba.
Louis dan koleganya mengambil kapal untuk diri mereka sendiri, sementara sisa
pasukan harus melanjutkan perjalanan yang jauh ke Antiokhia. Pasukan itu
hancur, baik karena serangan Turki maupun karena sakit.
Perjalanan menuju
Yerusalem
Louis tiba di Antiokhia
pada tanggal 19 Maret, setelah terlambat akibat badai. Amadeus dari
Savoy meninggal di Siprus selama perjalanan. Louis disambut oleh paman
Aliénor, Raymond. Raymond
mengharapkan ia membantunya bertahan melawan Seljuk dan menemaninya dalam
ekspedisi melawan Aleppo, tetapi Louis menolak. Ia lebih memilih untuk
menyelesaikan peziarahannya di Yerusalem daripada memusatkan perhatian pada
aspek militer perang salib. Raymond ingin agar Aliénor, istri Louis, tetap
berada di belakang dan menceraikan Louis jika ia menolak membantunya. Louis
segera meninggalkan Antiokhia menuju County
Tripoli, meninggalkan Aliénor. Sementara itu, Otto dari Freising dan
sisa pasukannya tiba di Jerusalam pada awal bulan April, setelah itu Conrad
segera sampai. Fulk, Patriark Yerusalem,
dikirim untuk mengundang Louis bergabung dengan mereka. Armada yang berhenti di
Lisboa tiba, dan juga Provencal dibawah komando Aphonse dari Tolosa. Alphonse
sendiri tewas dalam perjalanan menuju Yerusalem karena diracuni oleh Raymond II dari
Tripoli, keponakannya yang takut akan aspirasi politiknya di Tripoli.
Target utama tentara salib adalah Edessa, tetapi target yang lebih diutamakan
oleh Raja Baldwin III dan Ordo
Bait Allah adalah Damaskus.
Konsili Akko
Bangsawan Yerusalem
menyambut datangnya pasukan dari Eropa, dan diumumkan bahwa konsili harus
dihimpunkan untuk menentukan target terbaik tentara salib. Pertemuan
berlangsung pada tanggal 24 Juni 1148. Dewan Haute Cour bertemu
dengan tentara salib dari Eropa di Palmarea, dekat kota Akko (kota utama
di Kerajaan Yerusalem). Baik Louis maupun Conrad
dibujuk untuk menyerang Damaskus.
Beberapa bangsawan (baron) Yerusalem
menyatakan bahwa menyerang Damaskus adalah tindakan yang tidak bijaksana,
karena Dinasti Burid di Damaskus, meskipun Muslim,
adalah sekutu mereka melawan dinasti Zengid. Conrad,
Louis, dan Baldwin bersikeras bahwa Damaskus adalah kota suci untuk
Kekristenan. Seperti Yerusalem dan Antiokhia, Damaskus akan menjadi hadiah yang
patut diperhitungkan di mata Kristen Eropa. Pada bulan Juli, pasukan mereka
dikumpulkan di Tiberias dan bergerak menuju Damaskus. Mereka berjumlah
50.000 tentara
Pengepungan Damaskus
Tentara salib memilih
untuk menyerang Damaskus dari barat, tempat berdirinya kebun buah yang akan
memberi mereka makanan. Mereka tiba pada tanggal 23 Juli.
Pasukan Muslim sudah siap untuk serangan tersebut dan langsung menyerang
pasukan yang bergerak melalui perkebunan diluar Damaskus. Damaskus meminta
bantuan dari Saifuddin Ghazi I dari Aleppo dan Nuruddin
Zengi dari Mosul. Damaskus lalu menyerang perkemahan tentara salib.
Tentara salib dapat dipukul mundur dari tembok ke perkebunan. Di sana mereka
rentan terhadap serangan gerilya.
Menurut William dari Tirus,
pada 27
Juli, tentara salib memilih untuk bergerak ke bagian timur, yang lebih
sedikit pertahanannya, tetapi lebih kurang lagi persediaan makanan dan airnya. Nuruddin
dan Saifuddin telah tiba. Dengan hadirnya Nuruddin di lapangan, sangatlah tidak
mungkin bagi tentara salib untuk kembali ke posisi mereka yang lebih baik. Pemimpin
tentara salib lokal menolak untuk meneruskan pengepungan, dan ketiga raja tidak
memiliki pilihan selain meninggalkan kota. Conrad, lalu sisa pasukan,
memilih untuk mundur kembali ke Yerusalem pada 28 Juli. Ketika mundur, mereka
diikuti oleh pemanah Turki yang terus menerus menyerang mereka.
Akibat
Setiap pihak Kristen
merasa saling dikhianati satu sama lain. Rencana baru dibuat untuk
menyerang Ascalon, dan Conrad membawa
pasukannya kesana, tapi tidak ada bantuan tiba, karena kurangnya kepercayaan
akibat kegagalan pengepungan Damaskus. Ketidakpercayaan ini terus berkepanjangan,
sehingga menghancurkan kerajaan Kristen di Tanah Suci. Setelah ekspedisi
Ascalon dihentikan, Conrad kembali ke Konstantinopel untuk memperkuat aliansi
dengan Manuel. Louis tetap berada di Yerusalem sampai tahun 1149.
Bernardus dari Clairvaux juga
dipermalukan oleh kekalahan ini. Bernardus meminta maaf kepada Paus.
Menurutnya, dosa tentara salib adalah akibat dari ketidakberuntungan dan
kegagalan mereka. Ketika usahanya untuk menyerukan perang salib baru gagal, ia
mencoba memisahkan dirinya dari kegagalan Perang Salib Kedua. Bernardus
meninggal dunia pada tahun 1153.
Perang Salib Wend
membuahkan hasil yang manis dan pahit. Sementara Sachsen menyatakan Wagria dan
Polabia sebagai jajahan mereka, pagan tetap menguasai wilayah Obodrit di
sebelah timur Lübeck. Sachsen menerima upeti dari Niklot, memungkinkan
kolonisasi Keuskupan Havelberg,
dan pembebasan beberapa tahanan Denmark, namun pemimpin-pemimpin Kristen saling
mencurigai dan menuduh satu sama lain atas tuduhan mensabotase kampanye
militer. Di Iberia, kampanye militer di Spanyol, dan juga pengepungan Lisboa,
merupakan satu-satunya kemenangan Kristen dalam Perang Salib Kedua. Kampanye
tersebut dianggap sebagai pertempuran penting dalam Reconquista,
yang akan selesai pada tahun 1492.
Serangan terhadap Damaskus membawa
malapetaka kepada Yerusalem: Damaskus tidak lagi percaya kepada negara-negara
tentara salib, dan kota itu diberikan kepada Nuruddin tahun 1154. Baldwin III menguasai Ascalon pada
tahun 1153,
yang menyeret Mesir kedalam
konflik ini. Yerusalem mampu memasuki Mesir dan merebut Kairo pada
tahun 1160.[37] Akan
tetapi, bantuan dari Eropa jarang datang setelah bencana yang diakibatkan oleh
Perang Salib Kedua. Raja Amalric I dari Yerusalem bersekutu dengan Romawi
Timur dan melancarkan invasi gabungan ke Mesir tahun 1169, tapi serangan ini
gagal. Pada tahun 1171, Salahuddin
Ayyubi, keponakan dari salah satu jenderal Nuruddin, menjadi Sultan Mesir.
Ia mempersatukan Mesir dan Suriah, lalu mengepung kerajaan tentara salib.
Sementara itu, aliansi dengan Bizantium berakhir setelah kematian Kaisar Manuel I pada tahun
1180, dan pada tahun 1187, Yerusalem diserang dan direbut oleh
Salahuddin. Pasukannya lalu menyebar ke utara dan merebut semua ibukota
negara-negara tentara salib, memicu meletusnya Perang Salib Ketiga.