A.
Pengertian
Karangan Ilmiah atau yang sering disebut karya
ilmiah adalah karangan yang dibuat berdasarkan cara yang sistematis dan
memiliki ciri-ciri tertentu. Demikian juga karangan non ilmiah dan karangan
popular memiliki ciri khasnya tersendiri. Lalu bagaimana membedakan satu sama
lainnya, di dalam makalah ini akan dijelaskan bagaimana membedakan antara semua
jenis karangan tersebut.
Ø Hal-hal yang harus ada dalam karya
ilmiah antara lain :
a. Karya
tulis ilmiah memuat gagasan ilmiah lewat pikiran dan alur pikiran.
b. Keindahan
karya tulis ilmiah terletak pada bangun pikir dengan unsur-unsur yang
menyangganya.
c. Alur
pikir dituangkan dalam sistematika dan notasi.
d. Karya
tulis ilmiah terdiri dari unsur-unsur: kata, angka, tabel, dan gambar, yang
tersusun mendukung alur pikir yang teratur.
e. Karya
tulis ilmiah harus mampu mengekspresikan asas-asas yang terkandung dalam
hakikat ilmu dengan mengindahkan kaidah-kaidah kebahasaan.
f. Karya
tulis ilmiah terdiri dari serangkaian narasi (penceritaan), eksposisi (paparan),
deskripsi (lukisan) dan argumentasi (alasan).
B.
Ciri
– Ciri Karya Ilmiah
Dalam karya ilmiah ada 4 aspek yang menjadi
karakteristik utamanya, yaitu :
a.
struktur
sajian
Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat, biasanya
terdiri dari bagian awal (pendahuluan), bagian inti (pokok pembahasan), dan
bagian penutup. Bagian awal merupakan pengantar ke bagian inti, sedangkan inti
merupakan sajian gagasan pokok yang ingin disampaikan yang dapat terdiri dari
beberapa bab atau subtopik. Bagian penutup merupakan simpulan pokok pembahasan
serta rekomendasi penulis tentang tindak lanjut gagasan tersebut.
b.
komponen
dan substansi
Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai dengan jenisnya,
namun semua karya ilmiah mengandung pendahuluan, bagian inti, penutup, dan
daftar pustaka. Artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan adanya
abstrak.
c.
sikap
penulis
Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah objektif,
yang disampaikan dengan menggunakan gaya bahasa impersonal, dengan banyak
menggunakan bentuk pasif, tanpa menggunakan kata ganti orang pertama atau
kedua.
d.
penggunaan
bahasa
Bahasa yang digunakan dalam karya ilmiah adalah
bahasa baku yang tercermin dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat yang
efektif dengan struktur yang baku.
Ø Selain ciri-ciri diatas karangan
ilmiah juga mempunyai ciri-ciri, antara lain :
ü Kejelasan. Artinya
semua yang dikemukakan tidak samar-samar, pengungkapan maksudnya tepat dan
jernih.
ü Kelogisan. Artinya
keterangan yang dikemukakan masuk akal.
ü Kelugasan. Artinya
pembicaraan langsung pada hal yang pokok.
ü Keobjektifan. Artinya
semua keterangan benar-benar aktual, apa adanya.
ü Keseksamaan. Artinya
berusaha untuk menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan betapapun
kecilnya.
ü Kesistematisan. Artinya
semua yang dikemukakan disusun menurut urutan yang memperlihatkan
kesinambungan.
ü Ketuntasan. Artinya
segi masalah dikupas secara mendalam dan selengkap-lengkapnya.
C.
Jenis-jenis
karangan ilmiah :
Ada berbagai macam karangan ilmiah, berikut
diantaranya :
a. Laporan
penelitian. Laporan yang ditulis berdasarkan penelitian. Misalnya laporan
penelitian yang didanai oleh Fakultas dan Universitas, laporan ekskavasi
arkeologis yang dibiayai oleh Departemen Kebudayaan, dsb.
b. Skripsi.
Tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik sarjana strata satu (Si).
c. Tesis.
Tulisan ilmiah untuk mendapatkan gelar akademik strata dua (S2), yaitu Master.
d. Disertasi.
Tulisan ilmiah untuk mendapat gelar akademik strata tiga (S3), yaitu Doktor.
e. Surat
pembaca. Surat yang berisi kritik dan tanggapan terhadap isi suatu tulisan
ilmiah.
f. Laporan
kasus. Tulisan mengenai kasus-kasus yang ada yang dilandasi dengan teori.
D. Contoh
Karya Ilmiah
“EFEK
RUMAH KACA”
BAB
I
PENDAHULUAN
I.
Latar
Belakang
Saat ini perkembangan
dan kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau yang sering disebut Iptek
memang memberikan dampak yang positif bagi kehidupan, yaitu dapat
menyederhanakan dan mempermudah aktivitas-aktivitas dalam kehidupan. Namun,
tidak hanya dampak positif saja yang diberikan oleh kemajuan di bidang iptek
ini, tetapi juga dampak-dampak negatif. Misalnya saja, berkat adanya kemajuan
iptek manusia tak perlu lagi berjalan kaki untuk menempuh perjalanan yang jauh
ataupun dekat. Karena saat ini sudah banyak sepeda motor dan mobil yang
mempercepat dan memudahkan kita menuju ke suatu tempat. Namun asap dari
kendaraan bermotor ini dapat menyebabkan polusi dan gas rumah kaca apabila
kadarnya telah berlebih. Tidak hanya itu, pembakaran fosil seperti pada pembangkitan
tenaga listrik, kendaraan bermotor, AC, komputer, pembakaran hutan juga
menyebabkan konsentrasi gas rumah kaca meningkat.
Masalah lain yang juga
kita alami saat ini adalah meningkatnya temperatur rata-rata permukaan
bumi. Dari tahun 1880-1940 temperatur bumi naik hingga 0,6 derajat celcius.
Lalu kembali menurun 0,3 derajat celcius dari tahun 1940-1975. Kemudian naik
secara perlahan-lahan sejak tahun 1975.
Masalah-masalah
lingkungan ini makin lama makin bertambah, terlebih saat ini berhembus masalah
yang lebih besar mengenai global warming dan efek rumah kaca.
II.
Tujuan
Tujuan secara umum
adalah untuk mengetahui sejauh manakah pemanasan Global ini telah terjadi? dan
penyebab pastinya apa? Semua ini masih merupakan tanda Tanya bagi manusia.
Karena sampai sekarang manusia belum mendapatkan penyebab pasti dari pemanasan
Global ini dan manusia juga mau mencari kebenaran mengenai efek dari pemanasan
Global yang akan dialami oleh manusia sendiri, makhluk hidup maupun lingkungan
di sekitarnya.
Jika pemanasan Global ini terjadi maka efek yang ditimbulkan bukan hanya di alami oleh manusia saja tetapi juga semua makhluk hidup di sekitarnya, seperti meningkatnya suhu di permukaan bumi menyebabkan kekeringan, dengan demikian akibat dari kekeringan ini selain dialami manusia juga oleh hewan dan tumbuhan dimana tumbuhan akan menjadi layu karena kekurangan air atau dan sebagainya.
Oleh karena itu melalui
karya ilmiah ini diharapkan agar manusia dapat lebih mencegah aktivitas yang
dapat menyebabkan terjadinya pemanasan Global seperti mengadakan kegiatan
pembakaran zat-zat yang dapat menyebabkan suhu di permukaan bumi meningkat, dan
lain-lain.
III.
RumusanMasalah
Masalah-masalah yang akan kami bahas dalam karya ilmiah ini meliputi :
1. Apa itu rumah kaca?
2. Bagaimana dan apa penyebab rumah kaca?.
3. Apa keterkaitan efek rumah kaca dengan global warming dan perubahan iklim?.
4. Dampak apa yang diakibatkan oleh efek rumah kaca?.
5. Bagaimana cara-cara menanggulangi efek rumah kaca.
6.
Manfaat rumah kaca abagi kehidupan sehari-hari
BAB
II
PEMBAHASAN
I.
Pengertian
efek rumah kaca
Secara alamiah
cahaya matahari (radiasi gelombang pendek) yang menyentuh permukaan bumi akan
berubah menjadi panas dan menghangatkan bumi.
Sebagian dari panas ini
akan dipantulkan kembali oleh permukaan bumi ke angkasa luar sebagai radiasi
infra merah gelombang panjang.
Sebagian panas sinar
matahari yang dipantulkan itu akan diserap oleh gas-gas di atmosfer yang
menyelimuti bumi (disebut gas rumah kaca seperti : uap air, karbon-dioksida/CO2
dan metana ) sehingga panas sinar tersebut terperangkap di atmosfer bumi.
Peristiwa ini dikenal
dengan Efek Rumah Kaca (ERK) karena peristiwanya sama dengan rumah kaca, dimana
panas yang masuk akan terperangkap di dalamnya, tidak dapat menembus ke luar
kaca, sehingga dapat menghangatkan seisi rumah kaca tersebut.
Peristiwa alam ini menyebabkan
bumi menjadi hangat dan layak ditempati manusia, karena jika tidak ada Efek
Rumah Kaca maka suhu permukaan bumi akan 33 derajat Celcius lebih dingin.
Semua kehidupan di Bumi
tergantung pada efek rumah kaca ini, karena tanpanya, planet ini akan sangat
dingin sehingga es akan menutupi seluruh permukaan Bumi.
Akan tetapi, bila
gas-gas ini semakin berlebih di atmosfer dan berlanjut, akibatnya pemanasan
bumi akan berkelebihan dan akan semakin berlanjut !
Efek rumah kaca, yang
pertama kali diusulkan oleh Joseph Fourier pada tahun1824, merupakan proses
pemanasan permukaan suatu benda langit (terutama pada planetatau satelit) yang
disebabkan oleh komposisi dan keadaan atmosfernya.Efek rumah kaca hanya terjadi
pada planet-planet yang mempunyai lapisanatmosfer seperti Bumi, Mars, Venus,
dan satelit alami Saturnus (Titan).
II.
Penyebab
terjadinya Efek Rumah Kaca
Efek rumah kaca
disebabkan karena naikknya konsentrasi gas Karbondioksida(CO2) dan gas-gas
lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini terjadi akibatkenaikan
pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara, dan bahan bakar organiclainnya
yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorsinya.Bahan-bahan
di permukaan bumi yang berperan aktif untuk mengabsorsi hasil pembakaran
tadi ialah tumbuh-tumbuhan, huta, dan laut. Jadi bisa dimengerti bila
hutansemakin gundul, maka panas di bumi akan semakin naik.Energi yang diabsorsi
dipantulkan kembali dalam bentuk radiasi infra merah olehawan dan permukaan
bumi. Hanya saja sebagian sinar inframerah tersebut tertahan olehawan, gas CO2,
dan gas lainnya sehingga terpantul kembali ke permukaan bumi.Dengan
meningkatnya konsentrasi gas CO2 dan gas-gas lain di atmosfir makasemakin
banyak pula gelombang panas yang dipantulkan bumi dan diserap atmosfir.Dengan
perkataan lain semakin banyak jumlah gas rumah kaca yang berada di
atmosfir,maka semakin banyak pula panas matahari uang terperangkap di permukaan
bumi.Akibatnya suhu permukaan bumi akan naik. Sudah disebutkan di atas bahwa
efek rumah kaca terjadi karena emisi gas rumahkaca.
Meningkatnya gas rumah
kaca tersebut dikontribusi oleh hal-hal berikut:
ü Energi
Pemanfaatan berbagai macam bahan bakar fosil atau BBM memberikontribusi besar
terhadap naiknya konsentrasi gas rumah kaca, terutamaCO2.
ü KehutananSalah
satu fungsi hutan adalah sebagai pernyerap emisi gas rumah kaca.Karena hutan
dapat mengubah CO2 menjadi O2. Sehingga pengrusakanhutan akan memberi
kontribusi terhadap naiknya emisi gas rumah kaca.
ü Peternakan
dan PertanianDi sektor ini emisi gas rumah kaca dihasilkan dari pemanfaatan
pupuk, pembusukan sisa-sisa pertanian dan pembusukan kotoran-kotoran
ternak,serta pembakaran sabana. Pada sektor pertanian, gas metan (CH4)
yang paling banyak dihasilkan.
ü SampahSampah
sebagai salah satu kontributor terbesar bagi terbentuknya gasmetan (CH4),
karena aktifitas manusia sehari-hari.
III.
Akibat
dari Efek Rumah Kaca
Meningkatnya suhu
permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahaniklim yang sangat ekstrim di
bumi. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan danekosistem lainnya
sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbondioksidadi atmosfir.
Pemanasan global mengakibatkan mencairnya gunung-gunung es di daerahkutub yang
dapat menyebabkan naiknya permukaan air laut. Efek rumah kaca juga
akanmengakibatkan meningkatnya suhu air laut sehingga air laut mengembang dan
terjadikenaikan permukaan laun yang mengakibatkan negara yang berupa kepulauan
akanmendapat pengaruh yang sangat besar.
IV.
Efek
Rumah Kaca untuk Kehidupan di Bumi
Green house effect atau
lebih kita kenal dengan sebutan efek rumah kaca adalah sebuah kondisi di mana
suhu dari sebuah benda permukaan langit, seperti planet dan bintang, meningkat
secara drastis. Meningkatnya suhu ini disebabkan karena adanya perubahan
kondisi dari komposisi serta keadaan atmosfir yang mengelilingi benda langit
tersebut.
Sebenarnya, penggunaan
istilah efek rumah kaca diadopsi dari petani di negara Eropa dan Amerika,
karena mekanisme pemanasan bumi ini sama seperti yang terjadi di rumah kaca
yang digunakan untuk perkebunan di negara tersebut. Biasanya para petani
menggunakan rumah kaca di musim dingin. Tanaman yang ditanam di dalam rumah
kaca akan tetap hidup dan tidak mati membeku, oleh pengaruh musim dingin.
Karena kaca akan menghalangi suhu yang masuk dan memantulkan kembali keluar.
Ini menyebabkan seringnya terjadi kesalah pahaman. bahwa efek rumah kaca
disebabkan oleh banyaknya rumah berdinding kaca.
Yang terjadi pada bumi
adalah, ketika cahaya matahari mengenai atmosfer serta permukaan bumi, sekitar
70 persen dari energi tersebut tetap tinggal di bumi, diserap oleh tanah,
tumbuhan, lautan dan benda lainnya. Tiga puluh persen sisanya dipantulkan
kembali melalui awan, hujan serta permukaan reflektif lainnya. Tetapi panas 70
persen itu, tidak selamanya berada di bumi. Benda-benda di sekitar planet yang
menyerap cahaya matahari seringkali meradiasikan kembali panas yang diserapnya.
Sebagian panas tersebut
masuk ke ruang angkasa, tinggal di sana dan akan dipantulkan kembali ke bawah
permukaan bumi, ketika mengenai zat yang berada di atmosfer. Seperti karbon
dioksida, gas metana dan uap air. Panas tersebut yang membuat permukaan bumi
tetap hangat daripada di luar angkasa, karena energi lebih banyak yang terserap
dibandingkan dengan yang dipantulkan kembali.
Jadi, jika bumi tidak
memiliki gas rumah kaca, maka suhu di bumi akan terlalu dingin untuk kehidupan
makhluk di dalamnya. Sebagai contoh, planet Mars tidak memiliki gas rumah kaca,
sehingga suhu di sana berada di sekitar -30°C. Jika suhu yang sama terjadi di
bumi, tentu saja tidak ada makhluk hidup dapat hidup di bumi.
Tidak menjadi masalah
seadainya konsentrasi gas-gas rumah kaca berada dalam keadaan konstan, tidak
terjadi lonjakan drastis seperti sekarang ini. Meningkatnya konsentrasi gas-gas
rumah kaca diakibatkan berbagai aktivitas manusia yang memicu pancaran gas tersebut
ke atmosfir. Dengan adanya pancaran gas ini, maka konsentrasinya di lapisan
atmosfir bumi akan semakin tinggi. Kondisi ini akan mengakibatkan sinar
matahari yang dipantulkan oleh permukaan bumi akan sulit lewat dan menjadi
terperangkap di permukaan bumi.
Pengaruh masing-masing
gas rumah kaca terhadap terjadinya efek rumah kaca bergantung pada besarnya
kadar gas rumah kaca di atmosfer, waktu tinggal di atmosfer dan kemampuan
penyerapan energi. Peningkatan kadar gas rumah kaca akan meningkatkan efek rumah
kaca yang dapat menyebabkan terjadinya pemanasan global. Adapun gas-gas yang
terdapat dalam rumah kaca, adalah sebagai berikut:
CO2 (Karbon Dioksida)
CO2 adalah gas rumah
kaca terpenting penyebab pemanasan global yang sedang ditimbun di atmosfer
karena kegiatan manusia. Sumbangan utama manusia terhadap jumlah karbon
dioksida dalam atmosfer berasal dari pembakaran bahan bakar fosil, yaitu minyak
bumi, batu bara, dan gas bumi.
Pembukaan lahan baru
pertanian dan penggundulan hutan juga meningkatkan jumlah karbon dioksida dalam
atmosfer. Namun selain efek rumah kaca, CO2 juga memainkan peranan sangat
penting untuk kehidupan tanaman. Karbon dioksida diserap oleh tanaman dengan
bantuan sinar matahari dan digunakan untuk pertumbuhan tanaman dalam proses
yang dikenal sebagai fotosintesis. Proses yang sama terjadi di lautan di mana
karbon dioksida diserap oleh ganggang.
Dampak dari
meningkatnya CO2 di atmosfer antara lain: meningkatnya suhu permukaan bumi,
naiknya permukaan air laut, anomali iklim, timbulnya berbagai penyakit pada
manusia dan hewan(Astin,2008). Berbagai upaya dilakukan untuk menekan laju
peningkatan emisi CO2 di atmosfer.
H2O (Uap Air)
Uap air merupakan
penyumbang terbesar bagi efek rumah kaca. Uap air tidak terlihat dan harus
dibedakan dari awan dan kabut yang terjadi ketika uap membentuk butir-butir
air. Jumlah uap air dalam atmosfer berada di luar kendali manusia dan
dipengaruhi terutama oleh suhu global. Jika bumi menjadi lebih hangat, jumlah
uap air di atmosfer akan meningkat karena naiknya laju penguapan. Ini akan
meningkatkan efek rumah kaca dan pemicu naiknya pemanasan global.
CH4 (Metana)
Metana dihasilkan
ketika jenis-jenis mikroorganisme tertentu menguraikan bahan organik pada
kondisi tanpa udara (anaerob). Gas ini juga dihasilkan secara alami pada saat
pembusukan biomassa di rawa-rawa sehingga disebut juga gas rawa. Metana mudah
terbakar, dan menghasilkan karbon dioksida sebagai hasil sampingan. Kegiatan
manusia telah meningkatkan jumlah metana yang dilepaskan ke atmosfer. Sawah
merupakan kondisi ideal bagi pembentukannya, di mana tangkai padi nampaknya
bertindak sebagai saluran metana ke atmosfer. Meningkatnya jumlah ternak sapi,
kerbau dan sejenisnya merupakan sumber lain yang berarti, karena metana
dihasilkan dalam perut mereka dan dikeluarkan ketika mereka bersendawa dan
kentut. Metana juga dihasilkan dalam jumlah cukup banyak di tempat pembuangan
sampah, sehingga menguntungkan bila mengumpulkan metana sebagai bahan bakar
bagi ketel uap untuk menghasilkan energi listrik. Metana merupakan unsur utama
dari gas bumi. Gas ini terdapat dalam jumlah besar pada sumur minyak bumi atau
gas bumi.
CFC (Chloro Flouro
Carbon)
Chlorofluorocarbon
adalah sekelompok gas buatan. CFC mempunyai sifat tidak mudah terbakar dan
tidak beracun. CFC amat stabil sehingga dapat digunakan dalam berbagai
peralatan. Mulai digunakan secara luas setelah Perang Dunia II. Chloro fluoro
carbon yang paling banyak digunakan mempunyai nama dagang Freon. Dua jenis
chlorofluorocarbon yang umum digunakan adalah CFC R-11 dan CFC R-12. Zat-zat
tersebut digunakan dalam proses mengembangkan busa, di dalam peralatan
pendingin ruangan dan lemari es selain juga sebagai pelarut untuk membersihkan
mikrochip.CFC menghasilkan efek pemanasan hingga ribuan kali dari CO2. Tetapi
untungnya pemakaian CFC telah dilarang di banyak negara karena CFC telah lama
dituding sebagai penyebab rusaknya lapisan ozon.
O3 (Ozon)
Ozon terdapat secara
alami di atmosfer (troposfer, stratosfer). Di troposfer, ozon merupakan zat
pencemar hasil sampingan yang terbentuk ketika sinar matahari bereaksi dengan
gas buang kendaraan bermotor. Ozon pada troposfer dapat mengganggu kesehatan
manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan.
Ternyata, tanpa kita
sadari, begitu banyak pemicu terjadinya efek rumah kaca. Maka mari kita jaga
bumi ini, demi anak cucu kelak.
V.
Pengaruh
Efek Rumah Kaca Terhadap Pertumbuhan dan Produktifitas Tanaman.
Iklim dan cuaca
merupakan faktor penentu utama bagi pertumbuhan dan produktifitas tanaman
pangan. Sistem produksi pertanian dunia saat ini mendasarkan pada kebutuhan
akan tanaman setahun, kecuali beberapa tanaman seperti pisang, kelapa,
buah-buahan, anggur, kacang-kacangan, beberapa sayuran seperti asparagus,
rhubarb, dan lain-lain. Tanaman-tanaman tersebut dikembangbiakan dalam kondisi
pertanaman tertentu.
Produktifitas pertanian
berubah-ubah secara nyata dari tahun ke tahun. Perubahan drastis cuaca, lebih
berpengaruh terhadap pertanian dibanding perubahan rata-rata. Tanaman dan
ternak sangat peka terhadap perubahan cuaca yang sifatnya sementara dan drastis.
Perbedaan cuaca antar tahun lebih berpengaruh dibanding dengan perubahan iklim
yang diproyeksikan. Dan tak terdapat bukti bahwa perubahan iklim akan
mempengaruhi perubahan cuaca tahunan.
Petani selalu
berhadapan dengan perubahan iklim. Besaran perbedaan antar tahun telah
melampaui prakiraan perubahan iklim. Fluktuasi iklim tahunan, dalam beberapa
urutan besaran lebih tinggi dibanding dengan besar prediksi perubahan
pelan-pelan iklim yang diajukan para ahli ekologi. Hal ini digambarkan pada
Musim panas daerah pertanian Jagung Amerika serikat, antara tahun 1988 (kering
dan panas) dan 1992 (basah dan dingin). Suhu selama Juli dan Agustus berbeda
80F dalam dua tahun dibeberapa negara bagian. Hal paling kritis yang belum
diketahui adalah pola frekuensi kemarau. Kemarau terjadi dibeberapa tempat
didunia setiap tahun. Kemarau tahunan juga lumrah terjadi di area pertanian
India, China, Rusia dan beberapa negara Afrika.
Makalah ini akan
membahas implikasi dari effek rumah kaca, atau khusunya, perubahan iklim yang
diakibatkan meningkatnya kandungan CO2 atmosfir dan gas rumah kaca lainnya
terhadap produktifitas tanaman pangan. Juga mempertimbangkan efek langsung
maupun biologis dari peningkatan kadar CO2 tersebut. Dan interaksi Biologi dan
Iklim terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman pangan.
VI.
Pengaruh Iklim terhadap
Pertumbuhan dan Produktivitas Tanaman
Variabel menonjol yang
diperkirakan akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produktivitas
tanaman pangan akibat terjadinya peningkatan kadar CO2 adalah bumi yang
memanas. Berdasarkan pengamatan obyektif di lapangan, diperkirakan akan lebih
rendah dibanding permodelan iklim yang lemah dan kasar menggunakan komputer.
Berdasarkan permodelan komputer, muka bumi rata-rata akan memanas sebesar
1,5-4,5OC jika kadar CO2 meningkat duakali. Secara keseluruhan iklim akan
memanas 3 kali 1,5OC pada akhir abad nanti, dan pemanasaan terbesar terjadi
dikutub, dan lebih rendah dikhatulistiwa.
Kedua, kenaikan suhu
dapat diperkirakan dan akan berpengaruh terhadap pola hujan. Untuk kebanyakan
tanaman pangan dan serat dan beberapa spesies lain perubahan dalam ketersediaan
air memiliki akibat yang lebih besar dibanding kenaikan suhu. Permodelan iklim
secara regional telah dimodelkan dalam tingkat yang lebih kurang meyakinkan
dibanding model untuk iklim global.
Perubahan yang
diperkirakan, jika terjadi dalam pola hujan dan suhu dengan kadar CO2 yang
tinggi akan menguntungkan produksi tanaman pangan beririgasi. Pertambahan areal
pertanian beririgasi di Amerika terjadi di delta misisipi dan dataran utara.
Hal serupa terjadi di India, China dan Rusia bagian selatan. Di USA, area tanam
jagung dan gandum musim dingin akan bergeser ke utara dan akan digantikan
sorgum dan padi-padian.
Ketiga, pemanasan
global mempengaruhi variabel yang berpengaruh terhadap produktifitas pertanian.
Hal ini akan sangat penting bagi pertanian yang terkait zona suhu, baik bagi
pertambahan maupun intensitas masa tanam atau satuan tingkat pertumbuhan.
Perhatian petani akan tertuju pada perbedaan musiman dan antar tahun pada curah
hujan, salju, lama musim tanam, dan beda suhu dalam hari-hari yang berpengaruh
pada tahap pertumbuhan. Stabilitas dan keandalan produksi adalah sama
pentingnya dengan besaran jumlah produksi itu sendiri.
Keprihatinan akan
perubahan iklim dimasa depan dan perubahan yang lebih besar lagi akan diimbangi
dengan penelitian mengenai manfaat peningkatan CO2 bagi fotosintesis dan
berkurangnya kebutuhan tanaman akan air, dan tetap meningkatnya hasil. Selama
70 tahuan, perubahan cuaca, mencerminkan bahwa hasil tanam di USA, Rusia,
India, China, Argentina, Canada dan Australia, memungkinkan negara dengan cuaca
baik dapat menjaga keamanan pangan negara dari cuaca yang buruk. Kekeringan
secara menyeluruh di dunia hampir tak pernah terjadi saat ini.
Walau ada kepastian
bahwa pertanian dunia dapat mengantisipasi perubahan iklim, perubahan itu akan
menambah masalah yang harus ditangani dalam dasa warsa kedepan. Masalah lain
adalah Kelangkaan air dan kualitas air, tanah yang menjadi gersang, pengadaan
energi dari bahan bakar fosil serta kelangsungan praktek pertanian yang
sekarang ada. Beberapa praktek yang membahayakan kesehatan manusia dan
kelestarian lingkungan harus diubah bersamaan dengan tingkat produksi yang aman
dan dapat diandalkan juga harus terus ditingkatkan. Prakiraan terjadinya
perubahan iklim membuat penelitian pertanian yang komprehensif menjadi sangat
penting dalam menghadapi perubahan itu secara efektif.
Penelitian mengenai
perubahan iklim, akan melengkapi usaha peningkatan produktivitas tanaman, yang
dipengaruhi oleh tekanan lingkungan, yang kini tengah dilakukan melalui
rekayasa genetik, perlakuan kimiawi dan pola pengolahan. Ini akan memberi dua
manfaat sekaligus, baik sebagai pelindung mengahadapi perubahan jangka pendek
lingkungan, seperti kemarau dan juga membantu menghadapi perubahan iklim dalam
jangka panjang, dan untuk mengkapitalisasi sumberdaya hayati bagi
peningkatan produksi.
Pandangan yang berbeda
mengenai pemanasan global yang memiliki bobot ilmiah yang baik muncul,
mendukung penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, sekarang telah
disimpulkan oleh beberapa ilmuwan bahwa model prakiraan iklim yang dibuat
merupakan penyederhanaan yang sangat simplistis dari proses atmosfir dan lautan
yang sangat kompleks. Dan tak dapat dibuktikan bahwa pengeluaran gas rumah kaca
akan berpengaruh signifikan terhadap iklim dunia, sebab-sebab pemanasan global
juga lebih tidak dapat lagi dipastikan.
VII.
Pengaruh
Biologis Langsung
ü Pertumbuhan Tanaman dalam rumah
Kaca
Penelitian mengenai
manfaat pengayaan CO2 dimulai abad lalu. Awal 1888, manfaat pemupukan dengan
CO2 telah dilakukan pada tanaman di dalam rumah kaca di Jerman, dan beberapa
tahun kemudian di Inggris, serta 80 tahun yang lalu di USA. Hasil yang
menguntungkan pertama kali dilaporkan terjadi pada tanaman pangan seperti
letuce, tomat, mentimun, dan kemudian bunga dan tanaman hias.
Banyak catatan dan
pernyataan yang disusun mengenai pertumbuhan tanaman yang berada dalam
lingkungan yang dikontrol dan diberi pengayaan CO2. Wittwer dan Robb membuat
catatan menyeluruh mengenai data-data sebelumnya dan ditambah hasil penelitiannya
sendiri bahwa tanaman tomat mencapai usia dewasa dan hasil produksi yang
menguntungkan dalam rumah kaca yang diperkaya CO2. Sementara Strain dan Cure
menyusun Bibliographi literature mengenai pengayaan CO2 dan efeknya terhadap
lingkungan dan tanaman yang lengkap. Kimball dkk. pada tahun 1983, 1985 dan
1996 mengumpulkan 770 penelitian mengenai hasil tanaman dalam rumah kaca dengan
pengayaan CO2, dan terbukti hasil tanaman tersebut meningkat 32%.
Pada tahun 1982
diselenggarakan Konferensi Internasional yang bertujuan mengidentifikasi
makalah yang terkait dengan pengaruh biologis langsung dari pengaruh
peningkatan CO2 pada produktifitas tanaman, sebagai sesuatu yang tak
terpisahkan dengan efisiensi photositensis, efisiensi penggunaan air,
Penyerapan Nitrogen biologis terkait dengan sumberdaya iklim seperti cahaya,
suhu dan kelembaban. Fokus makalah ini dibuat dengan mengacu kepada tindak
konferensi tersebut. Dokumentasi yang lebih lengkap mengenai efek langsung CO2
terhadap produkstifitas tanaman diterbitkan Departemen Energi USA pada Tahun
1985-1987 secara berseri, makalah Wittwer tahun 1985 dan 1992. Itu semua
dilengkapi oleh materi yang diedit oleh Enoch dan Kimball pada 1968 mengenai
Pengayaan Karbondioksida Pada Tanaman Rumah Kaca meliputi status dan sumber
CO2, physiologi, hasil daan ekonomi. Juga telah dilakukan riset selama 35 tahun
oleh sebuah grup dalam Komisi Tanaman Terlindung pada International Society for
Holticultural Science, yang membuktikan bahwa pengayaan CO2 menambah hasil
sebesar 12-13 %, dibanding pada kadar atmosfir biasa sebesar 335 ppm.
Pengaruh paling
mencolok dari pengayaan tersebut dalah efisiensi fotosintesis dan Penggunaan
Air yang lebih efisien.
VIII.
Efisiensi
Fotosintesis
Hanya sedikit keraguan
bahwa kadar CO2 dalam atmosfir adalah kurang optimal bagi fototosintesis ketika
faktor lain yang berpengaruh terhadap tanaman (cahaya, air, suhu dan unsur
hara) mencukupi. Fotosintesa Netto adalah jumlah fotosintesa brutto minus
fotorespirasi, dan fotorespirasi setidaknya memiliki besaran mengubah 50%
karbohidrat hasil fotosintesa kembali menjadi CO2, dengan peningkatan CO2
fotorespirasi diperkirakan akan menurun. Peningkatan Biomassa terbukti terjadi
ketika dilakukan pengayaan CO2. Ini tak selalu muncul dari fotosintesa netto.
Kadar CO2 yang tinggi memicu penggunaan air yang efisian dalam tanaman C4
seperti jagung. Peningkatan efisiensi air ini merangsang pertumbuhan tanaman.
Dampak langsung yang
dapat dijejaki dari peningkatan CO2 adalah peningkatan tingkat fotosintesa daun
dan kanopi. Peningkatan fotosintesis akan meningkat sampai kadar CO2 mendekati
1000 ppm. Hasil paling pasti adalah tanaman tumbuh cepat dan lebih besar. Ada
perbedaan antara spesies. Spesies C3 lebih peka terhadap peningkatan kadar CO2
dibanding C4. Terjadi juga pertambahan luas dan tebal daun, berat per luas,
tinggi tunas, percabangan, bibit dan jumlah dan berat buah. Ukuran Tubuh
meningkat seiring rasio akar-batang. Rasio C:N bertambah. Lebih dari itu semua
hasil panen meningkat. Terutama pada Kentang, Ubi Jalar, Kedelai. Dengan
meningkatnya kadar CO2 menjadi dua kali sekarang secara global, hasil pertanian
diperkirakan akan meningkat sampai 32% dari sekarang. Perkiraan sementara
saat ini sekitar 5%-10% dari kenaikan produksi pertanian adalah akibat kenaikan
kadar CO2. Manfaat pengayaan CO2 terhadap pertumbuhan dan produktifitas tanaman
saat ini telah dikenal telah dikenal luas. Banyak pengujian yang dilakukan
dalam lingkungan terkontrol secara penuh atau sebagian, terhadap beberapa
tanaman komersial (padi, Jagung, gandum, kedelai, kapas, kentang, tomat, ubi
jalar, dan beberapa tanaman hutan), yang membuktikannya.
IX.
Efisiensi
Penggunaan Air
Kebutuhan utama tanaman
yang lainnya adalah air, baik secara kualitas maupun kuantitas. Air kini telah
menjadi permasalahan penting bagi lima negara dengan jumlah penduduk terbesar
di dunia (China, India, USA, Sovyet, Indonesia). Juga tentu dinegara-negara
temur tengah, afrika utara dan sub sahara. Satu faktor penting yang berpengaruh
terhadap produksi tanaman namun masih merupakan misteri adalah pola musim
kering yang terjadi. Kekeringan adalah hal yang paling ditakuti oleh para
petani diberbagai negara produsen pangan. Kebutuhan akan air menjadi semakin
penting dan kritis, di USA, 80–85 % konsumsi air bersih adalah untuk pertanian.
Sepertiga persediaan tanaman pangan sekarang tumbuh padi 18% lahan beririgasi.
Aspek penting dari
peningkatan kadar CO2 dalam atmosfir adalah kecenderungan tanaman untuk menutup
sebagian dari stomata pada daunnya. Dengan tertutupnya stomata ini penguapan air
akan menjadi perkurang, dan dengan itu berarti efisiensi penggunaan air
meningkat. Kekurangan air adalah faktor pembatas utama dari produktifitas
tanaman. Bukti yang selama ini dikumpulkan menunjukan bahwa peningkatan CO2 di
atmosfir meningkatkan efisiensi penggunaan air. Hal ini adalah penemuan yang
penting bagi bidang pertanian dan juga bagi ekologi. Implikasi dari hal itu
bermacam-macam, salah satunya adalah peningkatan daya tahan terhadap kekeringan
dan berkurangnya kebutuhan air untuk pertanian.
Efek langsung dari
kadar CO2 dalam atmosfir terhadap fotosintesis tanaman C4 adalah meningkatkan
efisiensi air dalam fotosintesa. Dan pada tanaman C4 dan C3 mengurangi
membukanya stomata, hal ini ditunjukan oleh Roger et al. pada tanaman kedelai.
Tanaman dengan cara fotosintesa C3 mendapat keuntungan dengan 3 cara. Pertama
meluasnya ukuran daun, kedua peningkatan tingkat fotosintesis perunit luas
daun, dan terakhir efisiensi penggunaan air.
X.
Produksi
Tanaman Pangan Beririgasi
Perubahan yang telah diperkirakan
mengenai penguapan dan suhu akibat efek rumah kaca dan pemanasan global
sepertinya akan menguntungkan lahan pertanian beririgasi. Di USA, luas areal
pertanian beririgasi akan meluas sampai dataran utara dan delta Missisipi, hal
ini juga berlaku untuk Cina, India dan negara lain. Dimana lingkungan lebih
lembab dan diperuntukkan untuk tanaman biji-bijian dan kacang-kacangan.
Kecenderungan ini telah terjadi di USA, China, dan India. Jagung dan Gandum
kini bergeser mendekati daerah yang dingin dan lebih lembab. Produksi Sorgum
dan padi-padian akan menggeser posisi areal gandum dan jagung tersebut.
Diharapkan juga, dimasa mendatang model dari atmosfir dan iklim akan lebih
berkembang dan melengakapi dari apa yang sekarang telah dikembangkan, sehingga
sensitivitas tanaman terhadap perubahan iklim lebih dapat diketahui.
XI.
Pertumbuhan
dan Produkstifitas Tanaman
ü Kemampuan Adaptasi terhadap
Suberdaya Iklim di Bumi
Banyak tanaman pangan
mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim. Di bumi padi, ubikayu, ubijalar dan
jagung dapat tumbuh dimana saja kelembaban dan suhu sesuai. Jagung mampu tumbuh
di areal yang beraneka ragam kelembaban, suhu, dan ketinggian dibumi ini. Areal
produksinya di USA telah meluas ke utara sampai 800 km selam lima puluh tahun
ini. Kedelai dan Kacang tanah dapat tumbuh di daerah tropik sampai lintang 450
LU dan 400 LS. Gandum musim dingin yang lebih produktif dari gandum musim semi
areal tanamnya telah meluas keutara sejauh 360 km. Ditambah dengan kemampuan
rekayasa genetik yang kita miliki perluasan areal tanam akan semakin mungkin
dan cepat terealisasi.
Diperkirakan
penggandaan kadar CO2 akan meningkatkan produktivitas tanaman di Amerika Utara,
hal serupa juga terjadi di Sovyet, Eropa dan propinsi bagian utara China.
Tanaman hortikultura dapat berkembang bebearapa musim diseluruh negara bagian
USA. Tanaman seperti Tebu dan Kapas semakin meluas areal tanamnya dengan
dimanfaatkannya mulsa dan pelindung plastik. Pemanasan global akan lebih
menguntungkan dibanding dengan kembalinya era es sebagaimana diprediksi
beberapa dekade yang lalu. Terlebih dimana produksi tanaman pangan terpusat di
Lintang 300 LU sampai 500 LS.
Perubahan iklim secara
drastis dan ekstrem sebagaimana yang selama ini dipublikasikan adalah hal yang
sangat berlebihan. Pemanasan secara perlahan mungkin menguntungkan, karena
memungkinkan penanaman tumbuhan tropis seperti mangga, pepaya, nanas dan pisang
, dinegara bagian selatan USA.
XII.
Prakiraan
Regional
ü Pola Iklim dan Respons Tanaman
Sejak 1850, kadar CO2
dalam atmosfir telah meningkat sebesar 25 % akibat pembakaran bahan bakar fosil
dan penggundulan hutan tak ada yang menentangnya. Kadar gas rumah kaca selain
CO2 juga telah meningkat melebih prosentase CO2 dan dengan efek pemanas yang
setara CO2. Namun terdapat kontrovesi mengenai kapan pemanasan global pertama
kali muncul, juga terdapat kontroversi mengenai besaran perubahan suhu yang
terjadi, jika terjadi pada masa yang akan datang. Perkiraan yang ada berkisar
antara minus 1,50C sampai 60C. Prakiraan iklim dan cuaca regional dengan
sebaran variabel seperti awan, kelembaban, dan angin lebih tidak pasti lagi.
Efek langsung dari
meningkatnya CO2, berdampak positif terhadap tumbuhan, sebagaimana dibahas
diatas, namun bila terjadi kekeringan sebagaimana ramalan hasil permodelan
iklim yang sekarang, hasil pertanian tak dapat dipastikan. Namun secara garis
besar dampak yang terjadi masih dapat kita kendalikan. Tindakan dari petani,
ilmuwan dan kebijkan pemerintah lebih diperlukan dibandingkan dengan perubahan
pola hidup kita.
Prakiraan pengaruh CO2
terhadap iklim menimbulkan banyak spekulasi, dan beberapa riset telah dimulai
untuk meneliti dampaknya terhadap hubungan hama dan tanaman dan strategi
perlindungan tanaman. Gulma, Serangga, nematoda dan wabah berdampak
sangat merugikan bagi pertanian. Perubahan Iklim yang mungkin akan berdampak
pada hubungan tumbuhan – hasil panen – hama, dan ekosistem lain. Peningkatan
kandungan karbohidrat dan akumulasi nitrogen akan berpengaruh terhadap pola
makan serangga, ini telah ditunjukan dalam beberapa eksperimen. Pengendalian
hama memasuki era baru, dengan pengintegrasian penanganan hama.
XIII.
Pemanasan
Global
1.
Pengertian
Pemanasan Global
Pemanasan Global adalah
meningkatnya suhu rata-rata permukaan bumi akibat peningkatan jumlah emisi Gas
Rumah Kaca di atmosfer. Pemanasan Global akan diikuti dengan Perubahan Iklim,
seperti meningkatnya curah hujan di beberapa belahan dunia sehingga menimbulkan
banjir dan erosi. Sedangkan, di belahan bumi lain akan mengalami musim kering
yang berkepanjangan disebabkan kenaikan suhu.
2.
Penyebab
Pemanasan Global
Pemansan global terjadi
ketika ada konsentrasi gas-gas tertentu yang dikenal dengan gas rumah kaca, yg
terus bertambah di udara, hal tersebut disebabkan oleh tindakan manusia,
kegiatan industri, khususnya CO2 dan chlorofluorocarbon. Yang terutama adalah
karbon dioksida, yang umumnya dihasilkan oleh penggunaan batubara, minyak bumi,
gas dan penggundulan hutan serta pembakaran hutan.
Asam nitrat dihasilkan
oleh kendaraan dan emisi industri, sedangkan emisi metan disebabkan oleh
aktivitas industri dan pertanian. Chlorofluorocarbon CFCs merusak lapisan ozon
seperti juga gas rumah kaca menyebabkan pemanasan global, tetapi sekarang
dihapus dalam Protokol Montreal. Karbon dioksida, chlorofluorocarbon, metan,
asam nitrat adalah gas-gas polutif yang terakumulasi di udara dan menyaring
banyak panas dari matahari. Sementara lautan dan vegetasi menangkap banyak CO2,
kemampuannya untuk menjadi “atap” sekarang berlebihan akibat emisi. Ini berarti
bahwa setiap tahun, jumlah akumulatif dari gas rumah kaca yang berada di udara
bertambah dan itu berarti mempercepat pemanasan global.
Sepanjang seratus tahun
ini konsumsi energi dunia bertambah secara spektakuler. Sekitar 70% energi
dipakai oleh negara-negara maju; dan 78% dari energi tersebut berasal dari
bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan ketidakseimbangan yang mengakibatkan
sejumlah wilayah terkuras habis dan yang lainnya mereguk keuntungan. Sementara
itu, jumlah dana untuk pemanfaatan energi yang tak dapat habis (matahari,
angin, biogas, air, khususnya hidro mini dan makro), yang dapat mengurangi
penggunaan bahan bakar fosil, baik di negara maju maupun miskin tetaplah
rendah, dalam perbandingan dengan bantuan keuangan dan investasi yang
dialokasikan untuk bahan bakar fosil dan energi nuklir.
Penggundulan hutan yang
mengurangi penyerapan karbon oleh pohon, menyebabkan emisi karbon bertambah
sebesar 20%, dan mengubah iklim mikro lokal dan siklus hidrologis, sehingga
mempengaruhi kesuburan tanah.
3.
Dampak
Pemanasan Global
Pemanasan global yaitu
meningkatnya temperatur rata-rataatmosfer, laut dan daratan Bumi yang
disebabkan oleh aktifitas manusia terutama aktifitas
pembakaranhttpbahan
bakar fosil (batu bara, minyak bumi, dan gas alam), yang melepaskan bondioksida (CO2)
dan gas-gas lainnya yang dikenal sebagaihttpgas
rumah kaca ke atmosfer. Atmosfer semakin penuh dengan gas-gas rumah kaca ini
dan ia semakin menjadi insulator yang menahan lebih banyak pantulan panas
Matahari dari Bumi. Dampak pemanasan gelobal akan mempengaruhi :
a.
Cuaca
Para
ilmuan memperkirakan bahwa selama pemanasan global, daerah bagian Utara dari
belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere) akan memanas lebih dari daerah-daerah
lain di Bumi. Akibatnya, gunung-gunung es akan mencair dan daratan akan
mengecil. Akan lebih sedikit es yang terapung di perairan Utara tersebut.
Daerah-daerah yang sebelumnya mengalami salju ringan, mungkin tidak akan
mengalaminya lagi. Pada pegunungan di daerah subtropis, bagian yang ditutupi
salju akan semakin sedikit serta akan lebih cepat mencair. Musim tanam akan
lebih panjang di beberapa area. Temperatur pada musim dingin dan malam hari
akan cenderung untuk meningkat.
b.
Tinggi
muka laut
Ketika atmosfer
menghangat, lapisan permukaan lautan juga akan menghangat, sehingga volumenya
akan membesar dan menaikkan tinggi permukaan laut. Pemanasan juga akan
mencairkan banyak es di kutub, terutama sekitar Greenland, yang lebih
memperbanyak volume air di laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat
10 – 25 cm (4 – 10 inchi) selama abad ke-20, dan para ilmuan IPCC memprediksi
peningkatan lebih lanjut 9 – 88 cm (4 – 35 inchi) pada abad ke-21.
Perubahan tinggi muka
laut akan sangat mempengaruhi kehidupan di daerah pantai. Kenaikan 100 cm (40
inchi) akan menenggelamkan 6 persen daerah Belanda , 17,5 persen daerah
Bangladesh, dan banyak pulau-pulau. Erosi dari tebing, pantai, dan bukit pasir
akan meningkat. Ketika tinggi lautan mencapai muara sungai, banjir akibat air
pasang akan meningkat di daratan. Negara-negara kaya akan menghabiskan dana
yang sangat besar untuk melindungi daerah pantainya, sedangkan negara-negara
miskin mungkin hanya dapat melakukan evakuasi dari daerah pantai.
c.
Pertanian
Orang mungkin
beranggapan bahwa Bumi yang hangat akan menghasilkan lebih banyak makanan dari
sebelumnya, tetapi hal ini sebenarnya tidak sama di beberapa tempat. Bagian
Selatan Kanada , sebagai contoh, mungkin akan mendapat keuntungan dari lebih
tingginya curah hujan dan lebih lamanya masa tanam. Di lain pihak, lahan
pertanian tropis semi kering di beberapa bagian Afrika mungkin tidak dapat
tumbuh. Daerah pertanian gurun yang menggunakan air irigasi dari gunung-gunung
yang jauh dapat menderita jika snowpack (kumpulan salju) musim dingin, yang berfungsi
sebagai reservoir alami, akan mencair sebelum puncak bulan-bulan masa tanam.
Tanaman pangan dan hutan dapat mengalami serangan serangga dan penyakit yang
lebih hebat.
d.
Hewan
dan tumbuhan
Hewan dan tumbuhan
menjadi makhluk hidup yang sulit menghindar dari efek pemanasan ini karena
sebagian besar lahan telah dikuasai manusia. Dalam pemanasan global, hewan
cenderung untuk bermigrasi ke arah kutub atau ke atas pegunungan. Tumbuhan akan
mengubah arah pertumbuhannya, mencari daerah baru karena habitat lamanya
menjadi terlalu hangat. Akan tetapi, pembangunan manusia akan menghalangi
perpindahan ini. Spesies-spesies yang bermigrasi ke utara atau selatan yang
terhalangi oleh kota-kota atau lahan-lahan pertanian mungkin akan mati.
Beberapa tipe spesies yang tidak mampu secara cepat berpindah menuju kutub
mungkin juga akan musnah.
e.
Kesehatan
manusia
Di dunia yang hangat,
para ilmuan memprediksi bahwa lebih banyak orang yang terkena penyakit atau
meninggal karena stress panas. Wabah penyakit yang biasa ditemukan di daerah
tropis, seperti penyakit yang diakibatkan nyamuk dan hewan pembawa
penyakit lainnya, akan semakin meluas karena mereka dapat berpindah ke daerah
yang sebelumnya terlalu dingin bagi mereka. Saat ini, 45 persen penduduk dunia
tinggal di daerah di mana mereka dapat tergigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria;
persentase itu akan meningkat menjadi 60 persen jika temperature meningkat.
Penyakit-penyakit tropis lainnya juga dapat menyebar seperti malaria, demam
dengue (demam berdarah), demam kuning, dan encephalitis . Para
ilmuan juga memprediksi meningkatnya insiden alergi dan penyakit
pernafasan karena udara yang lebih hangat akan memperbanyak polutan, spora mold
dan serbuk sari.
XIV.
Hubungan
Pemanasan Global dengan Efek Rumah Kaca
Bumi ini sebetulnya
secara alami menjadi panas karena radiasi panas matahari yang masuk ke
atmosfer. Panas ini sebagian diserap oleh permukaan Bumi lalu dipantulkan
kembali ke angkasa. Karena ada gas rumah kaca di atmosfer, di antaranya karbon
dioksida (CO2), metana (CH4), nitro oksida (N2O), sebagian panas tetap ada di
atmosfer sehingga Bumi menjadi hangat pada suhu yang tepat (60ºF/16ºC) bagi
hewan, tanaman, dan manusia untuk bisa bertahan hidup. Mekanisme inilah yang
disebut efek gas rumah kaca. Tanpa efek gas rumah kaca, suhu rata-rata di dunia
bisa menjadi -18ºC. Sayangnya, karena sekarang ini terlalu banyak gas rumah
kaca di atmosfer, terlalu banyak panas yang ditangkapnya. Akibatnya, Bumi
menjadi semakin panas.
Pemanasan
global akibat adanya meningkatnya gas-gas rumah kaca yang menyebabkan efek
rumah kaca yang berlebihan pada atmosfer bumi diyakini merupakan salah satu
penyebab terjadinya perubahan iklim global secara ekstrem ini.
Istilah Efek rumah
kaca itu sendiri diusulkan pengunaan namanya pertama kali oleh Joseph
Fourier pada 1824, yang memiliki arti proses pemanasan permukaan suatu benda
langit terutama planet atau satelit yang memiliki atmosfer yang disebabkan oleh
tergangunya komposisi gas-gas rumah kaca pada atmosfernya. Komposisi gas-gas
rumah kaca pada atmosfer Bumi terdiri atas CO2 (Karbon dioksida), N2O (Nitrous
Oksida), HFCs (Hydrofluorocarbos), SF6 (Sulphur hexafluoride), PFCs
(Perfluorocarbons), SO2 (sulfur dioksida), NO (nitrogen monoksida), (NO2)
nitrogen dioksida (NO2) serta beberapa senyawa organik seperti gas CH4 (Metan)
dan (CFC) khloro fluoro karbon.
Gas-gas tersebut
dihasilkan lewat proses alami di Bumi ataupun merupakan hasil sampingan dari
aktivitas manusia saat memenuhi kebutuhan hidup. Gas yang dihasilkan oleh
letusan gunung berapi, kebakaran hutan, rawa-rawa, proses photosintesa, proses
pembusukan hingga proses bernafaspun merupakan sumber Gas Rumah Kaca alami.
Sedangkan sisa pembakaran hasil industri, pembakaran bahan bakar fosil, emisi
gas buang kendaraan bermotor adalah sumber Gas Rumah Kaca akibat dari aktivitas
manusia. Meningkatnya Gas Rumah Kaca dimulai sejak abad 18 saat manusia
menemukan teknologi industri yang banyak menggunakan bahan bakar fosil seperti
minyak bumi, gas maupun batubara untuk menghasilkan energi dan menyisakan
gas-gas rumah kaca yang kemudian kian banyak terkumpul pada lapisan atmosfer
melampaui batas kemampuan tumbuhan dan laut untuk mengabsorsinya. Lantas apa
hubungan meningkatnya efek rumah kaca dengan perubahan iklim ?
Meningkatnya kadar gas
rumah kaca pada atmosfer yang merupakan mesin pengendali alami iklim di Bumi
dapat mengganggu mekanismenya. Karena sifat dasar dari gas-gas rumah kaca yang
melewatkan cahaya sinar tampak (gelombang pendek) Matahari namun menyerap
gelombang panjang (sinar infra merah). Saat pancaran / radiasi dari
Matahari masuk ke Bumi, 25% dipantulkan kembali ke ruang angkasa oleh atmosfer
dan atau partikel-partikel gas di atmosfer, 25% diserap oleh
atmosfer, 45% diteruskan ke permukaan bumi dan oleh permukaan bumi
seperti permukaan air, es dan permukaan refletif lainnya 5% dipantulkan kembali
dalam bentuk gelombang panjang yang berupa energi panas (sinar inframerah).
Proses inilah yang disebut sebagai efek rumah kaca. Sesungguhnya, tanpa
adanya efek rumah kaca pada sistem perikliman di bumi, maka suhu menjadi sangat
rendah dan Bumi menjadi tidak layak huni. Dalam keadaan normal, Energi yang
dipantulkan kembali oleh permukaan bumi dalam bentuk radiasi infra merah
diteruskan ke angkasa oleh atmosfer, namun saat kadar gas rumah kaca di
atmosfer meningkat, Sinar infra merah tersebut terhambat dan memantul kembali
ke permukaan bumi, yang jika hal ini berlangsung terus-menerus dalam kurun
waktu yang lama akan menyebabkanpemanasan global di permukaan Bumi.
Meningkatnya suhu pada
pemukaan bumi dapat mengakibatkan terganggunya ekosistem dan mekasnisme biota
di bumi, terutama hutan sebagai sarana pendaur ulang karbon dioksida di udara.
Selain itu mengakibatkan mencairnya es di wilayah kutub hingga meningkatkan
volume air laut dan mengancam kebedaraan daratan. Karena suhu merupakan salah
satu parameter dari iklim maka saat terjadi perubahan suhu secara global akan
mengakibatkan terjadinyaperubahan iklim global yang ekstrim pula.
Kini tidak ada salahnya
jika kita yang di Bumi hidup lebih “santun” terhadap alam dan mulai merawat kelestarian
lingkungan. Slogan-slogan seperti “back to nature” atau pun “Go Green” jangan
hanya diucapakan semata, tapi harus direalisasikan dalam bentuk nyata demi
kelangsungan hidup seluruh mahluk di Bumi ini.
XV.
Cara-cara
Menanggulangi Pemanasan Global
Ada dua pendekatan
utama untuk memperlambat semakin bertambahnya gas rumah kaca. Pertama, mencegah
karbon dioksida dilepas ke atmosfer dengan menyimpan gas tersebut atau komponen
karbon-nya di tempat lain. Cara ini disebut carbon sequestration (menghilangkan
karbon). Kedua, mengurangi produksi gas rumah kaca.
Cara yang paling mudah
untuk menghilangkan karbon dioksida di udara adalah dengan reboisasi yang dapat
mengantisipasi global warming. Pohon, terutama yang muda dan cepat
pertumbuhannya, menyerap karbon dioksida yang sangat banyak, memecahnya melalui
fotosintesis, dan menyimpan karbon dalam kayunya. Di seluruh dunia, tingkat
perambahan hutan telah mencapai level yang mengkhawatirkan. Di banyak area, tanaman
yang tumbuh kembali sedikit sekali karena tanah kehilangan kesuburannya ketika
diubah untuk kegunaan yang lain, seperti untuk lahan pertanian atau pembangunan
rumah tinggal. Langkah untuk mengatasi hal ini adalah dengan penghutanan
kembali yang berperan dalam mengurangi semakin bertambahnya gas rumah kaca.
Gas karbon dioksida
juga dapat dihilangkan secara langsung. Caranya dengan menyuntikkan
(menginjeksikan) gas tersebut ke sumur-sumur minyak untuk mendorong agar minyak
bumi keluar ke permukaan. Injeksi juga bisa dilakukan untuk mengisolasi gas ini
di bawah tanah seperti dalam sumur minyak, lapisan batubara atau aquifer. Hal
ini telah dilakukan di salah satu anjungan pengeboran lepas pantai Norwegia,
dimana karbon dioksida yang terbawa ke permukaan bersama gas alam ditangkap dan
diinjeksikan kembali ke aquifer sehingga tidak dapat kembali ke permukaan.
Salah satu sumber
penyumbang karbon dioksida adalah pembakaran bahan bakar fosil. Penggunaan
bahan bakar fosil mulai meningkat pesat sejak revolusi industri pada abad
ke-18. Pada saat itu, batubara menjadi sumber energi dominan untuk kemudian
digantikan oleh minyak bumi pada pertengahan abad ke-19. Pada abad ke-20,
energi gas mulai biasa digunakan di dunia sebagai sumber energi. Perubahan
trend penggunaan bahan bakar fosil ini sebenarnya secara tidak langsung telah
mengurangi jumlah karbon dioksida yang dilepas ke udara, karena gas melepaskan
karbon dioksida lebih sedikit bila dibandingkan dengan minyak apalagi bila
dibandingkan dengan batubara.
Walaupun demikian,
penggunaan energi terbaharui dan energi nuklir lebih mengurangi pelepasan
karbon dioksida ke udara. Energi nuklir, walaupun kontroversial karena alasan
keselamatan dan limbahnya yang berbahaya. Untuk kendaraan bermotor, perlu
digunakan alat penyaring khusus gas buangan pada bagian knalpot (tempat keluar
gas buangan) yang dapatmenetralisirdan mengurangi dampak negatif gas buangan
tersebut. Bisa juga dengan mengganti bahan bakar dengan bahan bakar alternatif
yang ramah lingkungan, seperti tenaga surya (matahari) atau biodisel. Perlu
dikeluarkan regulasi tentang usia kendraan bermotor yang boleh beroperasi agar
tidak menimbulkan pencemaran.
Untuk skala industri,
perlu dibuat sistem pembuangan dan daur ulang gas buangan yang baik. Saluran
buangan perlu diperhatikan, kearah mana akan dibuang dan haruslah memperhatikan
lingkungan sekitar. Reboisasi lahan yang gundul merupakan salah satu langkah
untuk menahan laju karbondioksida yang berlebih diudara. Termasuk penanaman
pohon-pohon disepanjang jalan raya yang dapat menetralisir pencemaran udara
disepanjang jalan raya.Tetapi tidak melepas karbon dioksida sama sekali.
Selain itu diperlukan
juga adanya pengelolaan sampah.Pengelolaan sampah adalah pengumpulan,
pengangkutan, pemrosesan, pendaur-ulangan, atau pembuangan dari material
sampah. Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari
kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap
kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan
sumber daya alam. Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat, cair, gas, atau
radioaktif dengan metode dan keahlian khusus untuk masing masing jenis zat.
Praktek pengelolaan
sampah berbeda beda antara negara maju dan negara berkembang, berbeda juga
antara daerah perkotaan dengan daerah pedesaan, berbeda juga antara daerah
perumahan dengan daerah industri. Pengelolaan sampah yg tidak berbahaya dari
pemukiman dan institusi di area metropolitan biasanya menjadi tanggung jawab
pemerintah daerah, sedangkan untuk sampah dari area komersial dan industri
biasanya ditangani oleh perusahaan pengolah sampah.
Selain itu perlu
diadakan kerja sama internasional untuk mensukseskan pengurangan gas-gas rumah
kaca. Apabila pada suatu negara diterapkan peraturan kebijakan lingkungan yang
ketat, maka ekonominya dapat terus tumbuh walaupun berbagai macam polusi telah
dikurangi. Akan tetapi membatasi emisi karbon dioksida terbukti sulit
dilakukan. Sebagai contoh, Belanda, negara industrialis besar yang juga pelopor
lingkungan, telah berhasil mengatasi berbagai macam polusi tetapi gagal untuk
memenuhi targetnya dalam mengurangi produksi karbon dioksida. Oleh karena itu,
perlu adanya upaya yang serius, konsisten, dan kontinyu agar masalah kerusakan
lingkungan ini dapat diatasi atau diminimalisir.
XVI.
Manfaat
Efek Rumah Kaca Bagi Kehidupan di Bumi.
1.
Global
warming
Global warming dalah
suatu peristiwa yang disebabkan meningkatnya efek rumah kaca (green house
effect). Sebenarnya efek rumah kaca bukanlah suatu hal yang buruk, justru
dengan adanya efek rumah kaca bumi kita bisa tetap hangat, bahkan memungkinkan
kita bisa survive hingga sekarang.
Kamu bisa mengibaratkan
bumi kita seperti mobil yang sedang diparkir dalam cuaca yang cerah. Kamu pasti
akan berpikir bahwa temperature di dalam mobil pasti akan lebih panas
dibandingkan temperature di luar mobil. Sinar matahari memasuki mobil tersebut
melalui celah-celah pada kaca jendela dan secara otomatis panas dari sinar
matahari akan diserap oleh jok, karpet, dashboard serta benda-benda lain yang
berada di dalam mobil. Ketika semua objek tersebut melepaskan kembali panas yang
diserapnya, tidak semua panas tersebut akan bisa keluar melalui celah jendela,
sebagian justru akan dipantulkan kembali- panas tersebut akan diradiasikan
kembali oleh benda-benda yang ada di dalam mobil dengan panjang gelombang yang
berbeda-beda. Sehingga sejumlah energy panas akan tetap tinggal di dalam mobil,
dan hanya sebagian kecil dari energy tersebut yang bisa melepaskan diri. Pada
akhirnya, mobil tersebut akan mengalami peningkatan temperature secara berkala,
semakin lama akan semakin panas.
Ketika cahaya matahari
mengenai atmosfer serta permukaan bumi, sekitar 70% dari energi tersebut tetap
tinggal di bumi, diserap oleh tanah, lautan, tumbuhan serta benda-benda
lainnya. 30 % sisanya dipantulkan kembali melalui awan, hujan serta permukaan
reflektif lainnya. Tetapi panas yang 70 % tersebut tidak selamanya ada di bumu,
karena bila demikian maka suatu saat bumi kita akan menjadi “bola api”).
Benda-benda di sekitar planet yang menyerap cahaya matahari seringkali
meradiasikan kembali panas yang diserapnya. Sebagian panas tersebut masuk ke
ruang angkasa, tinggal di sana dan akan dipantulkan kembali ke bawah permukaan
bumi ketika mengenai zat yang berada di atmosfer, seperti karbon dioksida, gas
metana dan uap air. Panas tersebut yang membuat permukaan bumi tetap hangat
dari pada di luar angkasa, karena energy lebih banyak yang terserap
dibandingkan dengan yang dipantulkan kembali. Itulah peristiwa yang disebut
dengan efek rumah kaca (green house effect).
2.
Bumi
Tanpa Efek Rumah Kaca
Apa yang akan terjadi
bila bumi kita tanpa efek rumah kaca, maka bumi akan seperti planet Mars. Mars
tidak mmemiliki atmosfer yang cukup tebal untuk mempertahankan panas matahari,
di sana sangat dingin. Sehingga tidak memungkinkan adanya kehidupan.
BAB
III
PENUTUP
I.
Kesimpulan
Efek rumah kaca adalh
salah satu dampak dari pemanasan global yang sangat serius dampaknya. Pemanasan
global telah menjadi permasalahan yang menjadi sorotan utama umat manusia.
Fenomena ini bukan lain diakibatkan oleh perbuatan manusia sendiri dan
dampaknya diderita oleh manusia itu juga. Untuk mengatasi pemanasan global
diperlukan usaha yang sangat keras karena hampir mustahil untuk diselesaikan
saat ini. Pemanasan global memang sulit diatasi, namun kita bisa mengurangi
efeknya.
Seperti dengan cara
reboisasi, penanggulangan hal ini adalah kesadaran kita terhadap kehidupan bumi
di masa depan. Apabila kita telah menanamkan kecintaan terhadap bumi ini maka
pemanasan global hanyalah sejarah kelam yang pernah menimpa bumi ini.
II.
Saran
Kehidupan ini berawal
dari kehidupan di bumi jauh sebelum makhluk hidup ada. Maka dari itu untuk
menjaga dan melestarikan bumi ini harus beberapa dekade kah kita memikirkannya.
Sampai pada satu sisi dimana bumi ini telah tua dan memohon agar kita menjaga
serta melstarikannya. Marilah kita bergotong royang untuk menyelematkan bumi
yang telah memberikan kita kehidupan yang sempurna ini. Stop global warming.
Sumber :
- http://jadikecil.wordpress.com/about/karya-ilmiah-bahasa-indonesia-tentang-global-warming/
- http://mane3x.wordpress.com/2013/04/05/macam-macam-karangan-ilmiah-semi-ilmiah-dan-non-ilmiah/
Sumber :
- http://jadikecil.wordpress.com/about/karya-ilmiah-bahasa-indonesia-tentang-global-warming/
- http://mane3x.wordpress.com/2013/04/05/macam-macam-karangan-ilmiah-semi-ilmiah-dan-non-ilmiah/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar