Perang
Salib Kelima (1217–1221) adalah upaya untuk merebut kembali Yerusalem dan
seluruh wilayah Tanah Suci lainnya dengan pertama-tama
menaklukkan Dinasti Ayyubiyyah yang kuat di Mesir.
Paus
Honorius III mengorganisir Tentara Salib yang dipimpin oleh Leopold VI dari
Austria dan Andrew II dari
Hongaria, dan sebuah serangan terhadap Yerusalem akhirnya
menyebabkan kota itu tetap berada di tangan pihak Muslim. Belakangan pada 1218,
sebuah pasukan Jerman yang dipimpin oleh Oliver dari Koln, dan sebuah pasukan
campuran Belanda, Vlams dan Frisia yang
dipimpin oleh William I, Adipati
Belanda tiba. Untuk menyerang Damietta di
Mesir, mereka bersekutu dengan Kesultanan Rûm Seljuk di Anatolia, yang
menyerang Dinasti Ayubi di Suriah dalam upaya membebaskan Tentara Salib dari
pertempuran di dua front.
Setelah
menduduki pelabuhan Damietta, para Tentara Salib berbaris ke selatan
menuju Kairo pada
Juli 1221, tetapi mereka berbalik setelah pasokan mereka berkurang dan
menyebabkan mereka harus mengundurkan diri. Sebuah serangan malam oleh
Sultan Al-Kamil menyebabkan
kerugian besar di kalangan Tentara Salib dan akhirnya pasukan itu pun menyerah.
Al-Kamil sepakat untuk mengadakan perjanjian perdamaian delapan tahun dengan
Mesir.
Para
perwira Salib dari Frisia menantang Menara Damietta, Mesir
Seruan
untuk berperang
Pada
musim semi 1213, Paus Inosensius III menerbitkan bula
kepausan Quia maior, yang menyerukan kepada seluruh Dunia Kristen untuk
bergabung dalam sebuah Perang Salib yang baru. Namun raja-raja dan
kaisar-kaisar Eropa,
sedang sibuk berperang di antara mereka sendiri. Pada saat yang sama, Paus
Inosensius III tidak menginginkan bantuan mereka, karena perang salib sebelumnya yang dipimpin oleh raja-raja pernah
gagal. Ia memerintahkan diadakanya prosesi, doa, dan mengkhotbahkan seruan
untuk mengorganisir Perang Salib itu, dengan harapan untuk melibatkan penduduk
umumnya, para bangsawan kecil, dan para ksatria.
Prancis
Pesan
yang mengandung seruan berperang ini disampaikan di Prancis oleh Robert dari Courçon.
Namun, berbeda dengan Perang Salib lainnya, tidak banyak ksatria Prancis yang
ikut serta, karena mereka sudah berperang dalam Perang Salib
Albigensia melawan sekte Kathar yang sesat di
Pranis selatan.
Pada
1215 Paus Inosensius III menghimpun Konsili Lateran IV. Dengan rekan-rekannya,
antara lain Patriarkh
Latin dari YJerusalem, Raoul dari Merencourt,
ia membahas perebutan kembali Tanah Suci, di antara urusan gereja lainnya. Paus
Inosensius ingin peperangan ini dipimpin oleh kepausan, seperti yang mestinya terjadi
dengan Perang Salib Pertama untuk menghindari
kesalahan-kesalahan Perang Salib Keempat, yang diambil alih
oleh bangsa
Venezia. Paus Inosensius merencanakan para perwira Salib bertemu di Brindisi pada
1216, dan melarang perdagangan dengan pihak Muslim, untuk memastikan bahwa para
perwira Salib akan memiliki kapal dan senjata. Setiap perwira Salib akan
menerima indulgensia, termasuk mereka yang hanya ikut menolong
membayar biaya-biaya seorang perwira Salib, namun tidak pergi sendiri dalam
peperangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar