Lahirnya Astronomi
Manusia
Purba menerangkan pergerakan bintang dan planet atas dasar mitologi dan hikayat.
Orang Cinra pernah mengira bahwa gerhana matahari terjadi karena ada ular naga
mencoba mencaploknya.
Batu berukir peninggalan Babilonia ini Melambangkan Berbagai benda langit. Umur batu ini diperkirakan 3000 tahun
Keranda dari Mesir, berumur 2000 tahun, berlambangkan lukisan Nut, Dewi langit. binatang yang mengitarinya adalah lambang rasi
Astronomi
adalah ilmu pengetahuan tertua. Wajar sekali bagi manusia purba untuk
mempelajari gerak benda langit, karena matahari bintang dan bulan berpengaruh
pada cara mereka menyelenggarakan kehidupannya. Pada hari terang dan panas,
mereka dapat berburu dan melaksanakan tugas lain. Jadi, kegiatannya diatur oleh
saat terbit dan tenggelam matahari. Tetapi bulan juga penting bagi mereka,
bukan hanya karena menerangi malam saja. Perubahan fasenya, yang teratur,
merupakan awal penentuan kalender. Bulan memerlukan selang waktu 29½ hari sejak
mulai bulan purnama satu ke bulan purnama berikutnya. Jangka waktu semacam ini
dikenal sebagai satu bulan Komariyah.
Keuntungan
mempunyai kalender terpercaya menjadi jelas sekitar 8000 tahun s.M., tatkala
orang mulai bercocok tanam. Karena dengan pembagian waktu, dapat direncanakan
musim tabur dan musim panen.
Orang
Babilon purba mengira setahun itu terdiri atas dua belas bulan Komariyah.
Karena itu mereka membuat kalender yang terdiri atas 12 bulan, yang panjangya
masing-masing berselang seling 29 dan 30 hari. Sayang sekali bahwa dengan
demikian setahun hanya berjumlah 354 hari – 11 hari lebih pendek dari
sebenarnya. Kesalahan ini segera menjadi nyata, karena dengan perjalanan waktu
bulan Komariyah ternyata tidak sesuai dengan kedatangan musim. Untuk mengatasi
hal ini, satu bulan tambahan perlu disisipkan tiap 3 tahun sekali. Walaupun
begitu tahun pada kalender masih selalu sedikit lebih pendek, dan selalu
diperlukan pembetulan dari saat ke saat. Orang Babilon sudah mengetahui bahwa
kelompok bintang tertentu tampak di langit pada musim tertentu pula. Karena
itu, sejak tahun 2100 s.M. mereka mempergunakan bintang-bintang untuk
mengakurkan kalender. Bilamana sebuah bintang tampak tidak pada saat yang
seharusnya menurut hitungan kalender mereka, koreksi perlu diadakan. Di negara
lain didapat tatanan kalender lain pula. Kalender ini juga didasarkan pada
pengamatan atas bulan dan bintang secara Astronomi.
Hikayat, Dongeng, dan Agama
Dengan sistem penanggalan cermat, para
astronom dapat meramalkan peristiwa yang akan terjadi, seperti kejadian gerhana
dan penampaka komet. Tetapi, mereka tetap belum dapat menerangkan mengapa
peristiwa semacam itu terjadi. Dan mereka juga tidak punya gagasan akan hakikat
yang sebenarnya mengenai benda-benda langit. Karena itulah hikayat dan cerita
berkembang dan dipergunakan untuk menerangkan hal-hal yang serba gaib itu.
Orang Cina
umpamanya mengira gerhana matahari disebabkan karena ada seekor naga mencoba
menelan matahari. Mereka berteriak sembari beramai-ramai memukul gong untuk
menghalau si naga. Taktik tersebut kelihatannya berhasil, terbukti dari
penyembulan kembali matahari tidak lama berselang.
Kemudian
ilmu astronomi buat beberapa waktu terhambat karena orang memberhalakan matahari
dan bulan sebagai dewa. Beruntung sekali, beberapa orang selalu mempertanyakan
apa yang mereka lihat, dan dengan itu Astronomi merayap ke depan.
Bumi dan Kedudukannya
Astronom purba mengira bumi kita
datar. Gagasan pertama yang mengatakan bahwa muka bumi kita lengkung, berasal
dari fisuf Yunani Aristoteles, sekitar tahun 300 s.M. Menurut dia, lengkung nya
bumi dapat dipergunakan untuk menerangkan bintang-bintang tertentu tampak dari
suatu tempat, tetapi tidak tampak dari tempat lain. Hal itu juga dapat dipakai
untuk menerangkan lengkung bayangan bumi yang tampak di bulan, pada saat
gerhana bulan. Segera diterimalah pendapat bahwa bumi kita berwujud bola. Lagi
pula, karena planet kita adalah benda langit terpenting, orang Yunani purba
menganggap bumi sebagai pusat dari alam semesta. Di sekelilingnya beredarlah
matahari, bulan dan planet lain mengelilingi bumi, dengan bintang-bintang yang
berkedudukan tetap sebagai latar belakang. Namun hal ini belum dapat mengungkap
pergerakan planet yang aneh. Baru pada kira-kira tahun 100 s.M. seorang Yunani,
Ptolomeus, mengetengahkan pikiran sebgai berikut : planet-planet punya lintasan
berujud linkaran kecil (episikel). Lingkaran kecil ini menempuh garis edar yang
berwujud lingkaran besar (deferen) mengelilingi bumi. Pandangan Ptolomeus yang
tidak benar ini dianggap sebagai benar selama 14 abad berikutnya.
Para Astronom abad pertengahan di Istanbul
Gagasan Ptolomeus mengenai alam semesta, menurut pandangannya matahari, bulan, dan planet beredar mengelilingi bumi
Orang-orang Yang Mengubah astronomi
Pada tahun 1500an Nicolaus
Copernicus menerbitkan sebuah buku yang menguraikan bahwa planet-planet
berputar mengelilingi matahari. Teori ini mendorong astronom-astronom lain
mengembangkan penemuan-penemuan baru mengenai planet-planet serta
gerakan-gerakan mereka.
Setelah Ptolomeus meninggal pada
tahun 180 s.M. astronomi maju sedikit sekali. Lalu pada tahun 700-an orang Arab
membuat Bagdad (sekarang Irak) sebagai pusat penyelidikan langit. Walaupun pada
saat itu Astronomi masih berbaur dengan Astrologi, di Bagdad tercatat banyak
hasil pengamatan yang cermat. Dan kemajuan Astronomi masih tetap lambat karena
orang masih percaya bumi merupakan pusat alam semesta. Barulah pada tahun
1550-an konsep yang menyatakan planet beredar mengelilingi matahari dapat di
terima. Pencetus revolusi Astronomi itu bernama Nicolaus Copernicus, seorang
dokter bangsa Polandia.
Alam semesta seperti yang terlihat Copernicus. Planet beredar mengelilingi matahari, dan bulan beredar mengelilingi bumi
Nicolaus Copernicus, pemula revolusi astronomi pada abad 16
Revolusi Copernicus
Sebenarnya Copernicus bukan orang
pertama yang berpendapat bahwa planet beredar mengelilingi matahari.
Aristarchus dari Yunani pernah mempunyai gagasan serupa pada tahun 290 s.M..
Tetapi dia gagal meyakinkan orang lain, hingga dengan begitu gagasan mengenai
bumi sebagai pusat alam semesta tetap hidup. Tatkala atas dasar pengamatan,
copernicus menyadari bahwa planet-planet beredar mengelilingi matahari, dia
tidak segera menyebarluaskan gagasannya ini, Gereja pada saat itu berpihak pada
gagasan Ptolomeus mengenai alam semesta. Seorang yang punya pandangan lain dari
yang dianut oleh Gereja dapat dihukum, bahkan dijatuhi hukuman mati. Maka
Copernicus mengambil langkah yang bijak dengan cara menunda penyiaran teorinya
sampai tahun 1543, ketika dia mengetahui ajalnya sudah dekat. Meskipun ada
tantangan keras dari pihak Gereja, tapi ajaran Copernicus menarik banyak
pendukung. Revolusi telah dimulai.
Tycho Brahe dari Denmark adalah
seorang ahli ilmu bintang pada tahun 1500-an. Tetapi, walaupun banyak hasil
pengamatan yang cermat dicatatnya, dia tidak mampu mengembangkannya.
Sebaliknya, muridnya, seorang ahli matematika bangsa Jerman bernama Johannes
Kepler, berhasil memanfaatkan catatan-catatan gurunya ini. Dari catatan itu
Kepler, berhasil mengetahui tepat bagaimana planet beredar. Pada tahun 1609
menemukan bahwa planet beredar mengelilingi matahari melalui lintasan elips,
bukan berbentuk lingkaran. Dia juga melihat bahwa makin dekat sebuah planet
dengan matahari, makin cepat pula geraknya. Sementara Kepler menyelidiki hukum
yang mengatur gerak planet, suatu peristiwa penting terjadi di negeri Belanda.
Pada tahun 1608 seorang pembuat kacamata bernama Han Lippershey menciptakan
teropong.
Johannes Kepler memperlihatkan jalan lintasan planet yang mengelilingi matahari berupa elips, bukan lingkaran
Galileo Galilei dari Itali segera
membuat pula sebuah. Dengan teropong ini Galilei menemukan bintik matahari,
fase venus, gunung dan lembah bulan, serta empat buah bulan Jupiter. Tetapi
Gereja tetap meyakini kebenaran teori mengenai bumi sebagai pusat alam semesta,
dan memaksa Galileo berjanji untuk tidak mendukung tatanan Copernicus.
Kemudian, Gereja malah memaksa Galileo Galilei agar sama sekali meninggalkan
Astronomi.
Gerak dan Gaya-Berat
Isaac Newton, Ilmuwan Inggris yang
pandai, menemukan banyak hal yang amat penting bagi Astronomi. Dia juga
menelaah hukum yang berkaitan dengan benda yang bergerak, termasuk benda jatuh.
Pekerjaan tersebut menuntun Newton untuk memahami adanya gaya tarik antara dua
buah benda. Gaya itu diberi nama Gravitasi. Benda jatuh ke tanah karena adanya
gravitasi ini. Demikian pula gaya itulah yang menyebabkan planet senantiasa
tetap berada dala lintasannya mengelilingi matahari. Hukum Newton memungkinkan
astronom menghitung secara teliti gerak benda langit. Umpama saja, munculnya
sebuah komet di masa yang akan datang dapat diramal dengan penuh keyakinan
Isaac Newton menemukan cahaya matahari dapat terurai menjadi jejeran warna yang dinamai spektrum
Wawasan Mengenai Alam Semesta
Salah Seorang astronom terbesar
sepanjang masa adalah Wiliam Herschel. Dia menentukan bangun galaksi kita atas
dasar pengamatannya terhadap bintang-bintang. Dan pada tahun 1780-an dia
merupakan orang pertama yang pernah menyarankan bahwa beberapa obyek yang
tampak di langit pada malam hari mungkin galaksi lain yang sangat jauh dari tata
bintang kita. Jika hal itu benar, berarti alam semseta ini jauh lebih besar
daripada yang diduga sampai saat itu.
Pada tahun 1923 teori Herschel dapat dibuktikan kebenarannya oleh ilmiawan
Amerika, Edwin Hubble. Penemuan ini secara menggemparkan mengubah alam pikiran
manusia. Kemudian, Hubble pulalah yang menemukan bahwa alam semesta selalu
berubah-ubah
Wiliam Herschel meramalkan adanya galaksi di luar tata bintang kita










Tidak ada komentar:
Posting Komentar