Jumat, 14 November 2014

Astronomi

Lahirnya Astronomi
Manusia Purba menerangkan pergerakan bintang dan planet atas dasar mitologi dan hikayat. Orang Cinra pernah mengira bahwa gerhana matahari terjadi karena ada ular naga mencoba mencaploknya.

Batu berukir peninggalan Babilonia ini Melambangkan Berbagai benda langit. Umur batu ini diperkirakan 3000 tahun

 Keranda dari Mesir, berumur 2000 tahun, berlambangkan lukisan Nut, Dewi langit. binatang yang mengitarinya adalah lambang rasi


Astronomi adalah ilmu pengetahuan tertua. Wajar sekali bagi manusia purba untuk mempelajari gerak benda langit, karena matahari bintang dan bulan berpengaruh pada cara mereka menyelenggarakan kehidupannya. Pada hari terang dan panas, mereka dapat berburu dan melaksanakan tugas lain. Jadi, kegiatannya diatur oleh saat terbit dan tenggelam matahari. Tetapi bulan juga penting bagi mereka, bukan hanya karena menerangi malam saja. Perubahan fasenya, yang teratur, merupakan awal penentuan kalender. Bulan memerlukan selang waktu 29½ hari sejak mulai bulan purnama satu ke bulan purnama berikutnya. Jangka waktu semacam ini dikenal sebagai satu bulan Komariyah.
Keuntungan mempunyai kalender terpercaya menjadi jelas sekitar 8000 tahun s.M., tatkala orang mulai bercocok tanam. Karena dengan pembagian waktu, dapat direncanakan musim tabur dan musim panen.
Orang Babilon purba mengira setahun itu terdiri atas dua belas bulan Komariyah. Karena itu mereka membuat kalender yang terdiri atas 12 bulan, yang panjangya masing-masing berselang seling 29 dan 30 hari. Sayang sekali bahwa dengan demikian setahun hanya berjumlah 354 hari – 11 hari lebih pendek dari sebenarnya. Kesalahan ini segera menjadi nyata, karena dengan perjalanan waktu bulan Komariyah ternyata tidak sesuai dengan kedatangan musim. Untuk mengatasi hal ini, satu bulan tambahan perlu disisipkan tiap 3 tahun sekali. Walaupun begitu tahun pada kalender masih selalu sedikit lebih pendek, dan selalu diperlukan pembetulan dari saat ke saat. Orang Babilon sudah mengetahui bahwa kelompok bintang tertentu tampak di langit pada musim tertentu pula. Karena itu, sejak tahun 2100 s.M. mereka mempergunakan bintang-bintang untuk mengakurkan kalender. Bilamana sebuah bintang tampak tidak pada saat yang seharusnya menurut hitungan kalender mereka, koreksi perlu diadakan. Di negara lain didapat tatanan kalender lain pula. Kalender ini juga didasarkan pada pengamatan atas bulan dan bintang secara Astronomi.

Hikayat, Dongeng, dan Agama
            Dengan sistem penanggalan cermat, para astronom dapat meramalkan peristiwa yang akan terjadi, seperti kejadian gerhana dan penampaka komet. Tetapi, mereka tetap belum dapat menerangkan mengapa peristiwa semacam itu terjadi. Dan mereka juga tidak punya gagasan akan hakikat yang sebenarnya mengenai benda-benda langit. Karena itulah hikayat dan cerita berkembang dan dipergunakan untuk menerangkan hal-hal yang serba gaib itu.
Orang Cina umpamanya mengira gerhana matahari disebabkan karena ada seekor naga mencoba menelan matahari. Mereka berteriak sembari beramai-ramai memukul gong untuk menghalau si naga. Taktik tersebut kelihatannya berhasil, terbukti dari penyembulan kembali matahari tidak lama berselang.
Kemudian ilmu astronomi buat beberapa waktu terhambat karena orang memberhalakan matahari dan bulan sebagai dewa. Beruntung sekali, beberapa orang selalu mempertanyakan apa yang mereka lihat, dan dengan itu Astronomi merayap ke depan.

Bumi dan Kedudukannya
            Astronom purba mengira bumi kita datar. Gagasan pertama yang mengatakan bahwa muka bumi kita lengkung, berasal dari fisuf Yunani Aristoteles, sekitar tahun 300 s.M. Menurut dia, lengkung nya bumi dapat dipergunakan untuk menerangkan bintang-bintang tertentu tampak dari suatu tempat, tetapi tidak tampak dari tempat lain. Hal itu juga dapat dipakai untuk menerangkan lengkung bayangan bumi yang tampak di bulan, pada saat gerhana bulan. Segera diterimalah pendapat bahwa bumi kita berwujud bola. Lagi pula, karena planet kita adalah benda langit terpenting, orang Yunani purba menganggap bumi sebagai pusat dari alam semesta. Di sekelilingnya beredarlah matahari, bulan dan planet lain mengelilingi bumi, dengan bintang-bintang yang berkedudukan tetap sebagai latar belakang. Namun hal ini belum dapat mengungkap pergerakan planet yang aneh. Baru pada kira-kira tahun 100 s.M. seorang Yunani, Ptolomeus, mengetengahkan pikiran sebgai berikut : planet-planet punya lintasan berujud linkaran kecil (episikel). Lingkaran kecil ini menempuh garis edar yang berwujud lingkaran besar (deferen) mengelilingi bumi. Pandangan Ptolomeus yang tidak benar ini dianggap sebagai benar selama 14 abad berikutnya.

 Para Astronom abad pertengahan di Istanbul 


 Gagasan Ptolomeus mengenai alam semesta, menurut pandangannya matahari, bulan, dan planet beredar mengelilingi bumi



Orang-orang Yang Mengubah astronomi
            Pada tahun 1500an Nicolaus Copernicus menerbitkan sebuah buku yang menguraikan bahwa planet-planet berputar mengelilingi matahari. Teori ini mendorong astronom-astronom lain mengembangkan penemuan-penemuan baru mengenai planet-planet serta gerakan-gerakan mereka.
            Setelah Ptolomeus meninggal pada tahun 180 s.M. astronomi maju sedikit sekali. Lalu pada tahun 700-an orang Arab membuat Bagdad (sekarang Irak) sebagai pusat penyelidikan langit. Walaupun pada saat itu Astronomi masih berbaur dengan Astrologi, di Bagdad tercatat banyak hasil pengamatan yang cermat. Dan kemajuan Astronomi masih tetap lambat karena orang masih percaya bumi merupakan pusat alam semesta. Barulah pada tahun 1550-an konsep yang menyatakan planet beredar mengelilingi matahari dapat di terima. Pencetus revolusi Astronomi itu bernama Nicolaus Copernicus, seorang dokter bangsa Polandia.

Alam semesta seperti yang terlihat Copernicus. Planet beredar mengelilingi matahari, dan bulan beredar mengelilingi bumi

 Nicolaus Copernicus, pemula revolusi astronomi pada abad 16


Revolusi Copernicus
            Sebenarnya Copernicus bukan orang pertama yang berpendapat bahwa planet beredar mengelilingi matahari. Aristarchus dari Yunani pernah mempunyai gagasan serupa pada tahun 290 s.M.. Tetapi dia gagal meyakinkan orang lain, hingga dengan begitu gagasan mengenai bumi sebagai pusat alam semesta tetap hidup. Tatkala atas dasar pengamatan, copernicus menyadari bahwa planet-planet beredar mengelilingi matahari, dia tidak segera menyebarluaskan gagasannya ini, Gereja pada saat itu berpihak pada gagasan Ptolomeus mengenai alam semesta. Seorang yang punya pandangan lain dari yang dianut oleh Gereja dapat dihukum, bahkan dijatuhi hukuman mati. Maka Copernicus mengambil langkah yang bijak dengan cara menunda penyiaran teorinya sampai tahun 1543, ketika dia mengetahui ajalnya sudah dekat. Meskipun ada tantangan keras dari pihak Gereja, tapi ajaran Copernicus menarik banyak pendukung. Revolusi telah dimulai.
            Tycho Brahe dari Denmark adalah seorang ahli ilmu bintang pada tahun 1500-an. Tetapi, walaupun banyak hasil pengamatan yang cermat dicatatnya, dia tidak mampu mengembangkannya. Sebaliknya, muridnya, seorang ahli matematika bangsa Jerman bernama Johannes Kepler, berhasil memanfaatkan catatan-catatan gurunya ini. Dari catatan itu Kepler, berhasil mengetahui tepat bagaimana planet beredar. Pada tahun 1609 menemukan bahwa planet beredar mengelilingi matahari melalui lintasan elips, bukan berbentuk lingkaran. Dia juga melihat bahwa makin dekat sebuah planet dengan matahari, makin cepat pula geraknya. Sementara Kepler menyelidiki hukum yang mengatur gerak planet, suatu peristiwa penting terjadi di negeri Belanda. Pada tahun 1608 seorang pembuat kacamata bernama Han Lippershey menciptakan teropong.

Johannes Kepler memperlihatkan jalan lintasan planet yang mengelilingi matahari berupa elips, bukan lingkaran


            Galileo Galilei dari Itali segera membuat pula sebuah. Dengan teropong ini Galilei menemukan bintik matahari, fase venus, gunung dan lembah bulan, serta empat buah bulan Jupiter. Tetapi Gereja tetap meyakini kebenaran teori mengenai bumi sebagai pusat alam semesta, dan memaksa Galileo berjanji untuk tidak mendukung tatanan Copernicus. Kemudian, Gereja malah memaksa Galileo Galilei agar sama sekali meninggalkan Astronomi.

Galileo Galilei, orang Itali yang memperkenalkan teropong kepada dunia Astronomi pada tahun 1600-an

 
Gerak dan Gaya-Berat
            Isaac Newton, Ilmuwan Inggris yang pandai, menemukan banyak hal yang amat penting bagi Astronomi. Dia juga menelaah hukum yang berkaitan dengan benda yang bergerak, termasuk benda jatuh. Pekerjaan tersebut menuntun Newton untuk memahami adanya gaya tarik antara dua buah benda. Gaya itu diberi nama Gravitasi. Benda jatuh ke tanah karena adanya gravitasi ini. Demikian pula gaya itulah yang menyebabkan planet senantiasa tetap berada dala lintasannya mengelilingi matahari. Hukum Newton memungkinkan astronom menghitung secara teliti gerak benda langit. Umpama saja, munculnya sebuah komet di masa yang akan datang dapat diramal dengan penuh keyakinan

Isaac Newton menemukan cahaya matahari dapat terurai menjadi jejeran warna yang dinamai spektrum


Wawasan Mengenai Alam Semesta
            Salah Seorang astronom terbesar sepanjang masa adalah Wiliam Herschel. Dia menentukan bangun galaksi kita atas dasar pengamatannya terhadap bintang-bintang. Dan pada tahun 1780-an dia merupakan orang pertama yang pernah menyarankan bahwa beberapa obyek yang tampak di langit pada malam hari mungkin galaksi lain yang sangat jauh dari tata bintang kita. Jika hal itu benar, berarti alam semseta ini jauh lebih besar daripada yang diduga  sampai saat itu. Pada tahun 1923 teori Herschel dapat dibuktikan kebenarannya oleh ilmiawan Amerika, Edwin Hubble. Penemuan ini secara menggemparkan mengubah alam pikiran manusia. Kemudian, Hubble pulalah yang menemukan bahwa alam semesta selalu berubah-ubah

 Wiliam Herschel meramalkan adanya galaksi di luar tata bintang kita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar